Senin, 03 Mei 2010

Masa Depan Jurnalisme

Bagaimana industri dan aktivitas jurnalisme dimasa depan (kurang lebih 10 tahun mendatang): citizen journalism vs professional journalism

Journalism at its best, Pulitzer Prize-winning journalism that holds the powerful accountable to the public, requires a culture around it to support it. If the public no longer has faith that journalism is meaningful, and stops paying for it, and assumes it will be free on Google and Yahoo, then we truly are in a bad place,”.

Demikian adalah pernyatan dari Ellen Hume, peneliti dari MIT yang memiliki pengalaman lebih dari tiga puluh tahun sebagai reporter dan analis untuk surat kabar, majalah, dan televisi Amerika. Dari statementnya tersebut, dapat kami artikan, Ellen secara implisit menyatakan kekhawatirannya terhadap masa depan jurnalisme. Karya jurnalis yang baik, tentu saja adalah karya jurnalistik yang diakui, yang telah terbukti kredibel dan membawa manfaat bagi masyarakat. Ketika setiap manusia tidak lagi menganggap informasi sebagai sesuatu yang berarti, dan berasumsi bahwa dirinya dapat mengakses informasi yang kredibel dan bermanfaat, secara bebas dan gratis, maka bagaimana dengan nasib jurnalistik professional?

Salah satu pernyataan yang dapat dikaitkan untuk menjawab pertanyaan mengenai nasib jurnalistik professional dapat kami cuplik dari Stewart Brand, pemilik dan editor Whole Earth Catalog serta the Well and the Global Business Network, ia berkata :

"Information Wants To Be Free. Information also wants to be expensive. Information wants to be free because it has become so cheap to distribute, copy, and recombine - too cheap to meter. It wants to be expensive because it can be immeasurably valuable to the recipient. That tension will not go away. It leads to endless wrenching debate about price, copyright, 'intellectual property,' the moral rightness of casual distribution, because each round of new devices makes the tension worse, not better."

Ya, informasi memang benar ingin bebas, namun, informasi yang bebas itu, apakah ada yang menemukan? Tugas jurnalis professional lah untuk menemukan informasi. Tidak semua orang dapat mendapatkan informasi yang berarti, informasi yang “valuable”, memiliki nilai, informasi seperti ini adalah barang dagangan bagi jurnalis professional. Mereka yang menyatakan diri sebagai jurnalis rakyat, bisakah mendapatkan informasi yang memiliki nilai? Apabila mereka bisa, cukupkan kredibilitasnya? Wow, banyak sekali pertanyaan yang dapat muncul seiring dengan wacana mengenai wartawan tanpa media ini.

Contoh kasus yang dapat diamati saat ini, menurut kami, adalah Wimar Witoelar. Seperti “Perspektif Wimar”-lah kira-kira nanti tipe-tipe jurnalis rakyat yang akan muncul. Karena mereka tidak memiliki media, dan berpendapat, serta membuat berita atas nama mereka sendiri (seperti halnya Perspektif Wimar) maka dapat terlihat ketidaknetralan beritanya. Memang benar, media tidak boleh netral, media harus berpihak pada masyarakat dan kebenaran, namun dengan ketidakprofesionalan mereka, apakah mungkin mereka dapat menjadi berpihak pada rakyat, bukan pada diri sendiri?

Banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam menanggapi wacana jurnalisme rakyat ini, membuat kami masih skeptis akan “kekalahan” jurnalisme professional pada zaman bebasnya mengkases informasi. Masyarakat masih membutuhkan sebuah lembaga, organisasi, yang dapat bertanggung jawab atas hal-hal yang mereka kabarkan. Jadi, paling tidak sampai sepuluh tahun yang akan datang, menurut kami, jurnalisme professional masih akan bertahan, seperti apapun bentuk fisik informasi dalam karya jurnalistik yang beredar di masyarakat (bahkan apabila hanya sebuah ide yang disebarkan lewat telepati). Tidak hanya sampai sepuluh tahun ke depan, konon, jurnalisme adalah sector yang tetap bertahan bahkan di akhirat, karena setiap orang butuh informasi terperaya dari belahan dunia yang lain.

Sebagai contoh, kami mengutip pernyataan Andy Grove, Chairman dari Board of Intel Corporation sejak May 1997 sampai May 2005, ketika masa depan dari industri yang Anda geluti mengalami kebuntuan, maka ingatlah cerita mengenai orang yang tersesat di atas gunung, lalu bingung dan memilih untuk mengikuti orang yang ia percaya,:

"When you are in a strategic transformation, you kind of get lost. Part of you would want to retreat back to doing what you know how to do, because it's familiar, you know what you're good at, you know where the problems are. But your intellect tells you that's not where you really want to be. So you strike out in a new direction."

Ketika orang-orang kebingungan akan banyaknya informasi yang dapat diakses, maka peracayalah, masyarakat akan menggunakan cara yang familiar bagi dirinya untuk mendapatkan informasi, memercayakan tugas mengimpun informasi kepada para professional, oleh karena itu, profesi di bidang jurnalisme, paling tidak untuk sepuluh tahun yang akan datang, masih tetap bertahan, semoga.

Peran media sosial dalam penyebaran informasi dan aktivitas jurnalisme

Dunia jurnalisme tidak bisa dipisahkan dari peranan media sosial. Mulai dari media massa konvensional seperti surat kabar, majalah, tabloid hingga media massa kontemporer seperti e-paper, dan jejaring sosial (untuk yang satu ini, kami kategorikan sebagai media massa karena sifatnya yang terbuka untuk diakses oleh masyarakat umum).

Jurnalisme membutuhkan media untuk menjadi wadah penyebarluasan informasi yang terdapat dalam berita. Dan dalam perkembangannya kini, media massa hadir dengan ragamnya yang semakin bervariasi. Kehadiran internet semakin menguatkan pendapat bahwa media (dalam hal ini media on-line) dapat memberikan manfaat yang besar dalam kehidupan manusia, termasuk dunia jurnalisme.

Jejaring sosial yang hingga kini masih diperdebatkan apakah merupakan media massa atau bukan adalah salah satu jenis media on-line yang memberikan kontribusi besar dalam bidang jurnalisme. Berkat adanya jejaring sosial ini, masyarakat tidak hanya dapat berjumpa kembali dengan kawan lama atau bersilaturahmi dengan saudara jauh tetapi juga bisa menjadi jurnalis. Tak dapat dipungkiri, kehadiran jejaring sosial turut berperan dalam menggeliatkan aktivitas jurnalisme warga, atau kata lainnya adalah citizen journalism/ participatory journalism.

Pemanfaatan jejaring sosial oleh masyarakat untuk meng-update status dengan keseharian mereka, peristiwa yang terjadi di sekeliling mereka, hingga tempat-tempat wisata favorit serta rujukan film atau buku baru, adalah salah satu dari bentuk jurnalisme warga. Di sini, masyarakat menjalankan peranannya sebagai jurnalis dengan melaksanakan fungsi sebagai penyampai informasi. Ciri khas yang bisa dibilang sebagai kelemahan sekaligus kelebihan jurnalisme warga yang dilakukan melalui jejaring sosial adalah cara pengungkapan informasi dengan bahasa sehari-hari yang informal.

Bahasa informal tersebut menjadi kelebihan karena orang lain yang membaca informasi tersebut akan merasa karib dengan penulisnya berkat bahasa yang informal, dan hal tersebut dapat menghindari kejenuhan pembaca akan kata-kata baku yang biasa ditemui dalam berita di dunia jurnalisme professional. Namun, bahasa informal tersebut menjadi kekurangan jurnalisme warga sebab sifat bahasa informal yang tidak ketat tata bahasa membuat kalimat-kalimatnya kadang menjadi ambigu sebab tidak semua orang menguasai teknik penulisan yang baik. Lalu orang tidak akan mendapatkan jaminan mengenai akurasi, kredibilitas narasumber hingga kebenaran informasi tersebut sebab jurnalisme warga tidak terikat dengan etika profesi.

Bagi jurnalis profesional, kehadiran jejaring sosial turut membantu mereka melaksanakan tugasnya. Jejaring sosial seperti twitter, misalnya, dapat menjadi rujukan bagi mereka dalam mencari berita. Hal-hal yang menjadi trending topic (topik yang paling sering dibicarakan) dapat menjadi acuan bagi mereka dalam menentukan isu yang akan diangkat sebagai bahan berita. Status twitter para tokoh yang mempunyai nilai berita (orang penting, orang terkenal atau orang berkuasa) dapat dijadikan bahan-bahan untuk memperkaya sisi personal sang tokoh dalam berita khas (feature), misalnya. Atau dapat juga dijadikan rujukan untuk mengetahui keberadaan sang tokoh yang mempunyai nilai berita tersebut untuk dimintai keterangan atau wawancara secara mendadak jika sang narasumber sangat sulit dihubungi melalui telepon.

Status twitter yang sangat cepat berganti dimanfaatkan dengan sangat baik oleh media massa berbasis on-line seperti detik.com. Mereka menginformasikan hal-hal penting secara terus menerus melalui jejaring sosial ini tanpa perlu bersusah-susah mengemasnya secara detail karena sifat twitter yang terbatasi 140 karakter ini. Karena sifatnya yang cepat, mudah dan simpel ini maka tak heran tiba-tiba begitu banyak orang menjadi jurnalis mendadak ketika kejadian heboh orang yang terjun dari lantai dua sebuah pusat perbelanjaan terjadi.

Ambiguitas sifat jejaring sosial yang masih diperdebatkan antara media massa atau media pribadi ini juga dimanfaatkan dengan sangat baik oleh jurnalis profesional yang tidak bebas menyatakan pendapatnya dalam berita, atau ketika ada benturan-benturan ideologi atau kekuasaan yang membuat beritanya batal dimuat. Jika keadaan sudah mencapai seperti itu, maka jejaring sosial adalah sarana yang tepat bagi para jurnalis tersebut untuk mengungkapkan apa yang tidak bisa mereka ungkapkan di media massa. Beberapa jurnalis memilih membebaskan ekspresi mereka dalam mengungkapkan kebenaran yang tidak bisa mereka sampaikan dalam dunia jurnalisme melalui sastra tetapi keterbatasan penguasaan teknik penulisan sastra yang – tentu saja – berbeda dengan jurnalisme membuat jejaring sosial menjadi sarana yang tepat. Ketika ada pihak-pihak yang tersinggung dengan tulisan mereka dalam jejaring sosial, maka alasan bahwa jejaring sosial juga merupakan media pribadi adalah alasan yang tepat untuk melindungi mereka.

Seperti itulah manfaat yang diberikan oleh jejaring sosial dalam hal penyebaran informasi dan aktivitas jurnalisme. Beberapa tahun kemudian, jika ditemukan jejaring sosial yang semakin canggih, dapat dibayangkan bahwa jurnalisme warga akan semakin menggeliat.

dibuat oleh:

Deandra Syarizka (210110080225)

Ixora Tri Devi (210110080284)