Terinspirasi dari game virtual Second Life serta film yang dibintangi Bruce Willis berjudul Surrogates (2009), kami mengkhayalkan sepuluh tahun yang akan datang akan tercipta sebuah dunia virtual dalam kehidupan manusia sehari-harinya. Untuk mengakses dunia virtual ini, digunakan sebuah kacamata yang saat ini sudah banyak digunakan. Kacamata dalam khayalan kami, kira-kira berbentuk seperti ini :

Berbeda dengan game Secondlife, di mana setiap orang dapat membuat avatar sesuka mereka, dalam dunia virtual ini, kami membayangkan seseorang harus menggunakan identitas sebenarnya apabila ingin terlibat, seperti layakanya film Surrogates. Namun, apabila di dalam film Surogates ini avatar yang tercipta adalah robot versi diri sendiri mereka yang dipercantik, dalam Dunia Virtual 2020 khayalan kami, avatar yang tercipta sama persis dengan pemilik avatar. Agar dapat mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai Dunia Virtual 2020 khayalan kami, berikut ini cuplikan film Surogates (2009) :
Selain itu, apabila di film Surogates avatar hidup di dunia nyata, kami mengkhayalkan avatar Dunia Virtual 2020 hidup di dunia maya, yang seolah-olah nyata. Dalam Dunia Virtual 2020 bayangan kami, manusia dapat menyimpan memori mereka di dalam Dunia Virtual tersebut. Misalnya, seseorang menyimpan memori tentang konser The Beatles, setiap orang yang memiliki kacamata Dunia Virtual 2020, dapat mengakses memori tersebut, bahkan dapat seolah-olah menonton konser The Beatles tersebut bersama teman-teman yang lain di Dunia Virtual 2020.
Dalam khayalan kami, Dunia Virtual 2020 ini seperti halnya Yahoo Messanger, di mana setiap orang dapat memilih ingin bertemu dengan perorangan (seperti chatting), perkelompok, (seperti conference), atau secara massal (seperti halnya apabila kita masuk ke dalam Chat Room Yahoo Messager yang dapat diakses oleh seluruh manusia di dunia). Namun, dalam Dunia Virtual 2020, setting tempat interaksi ini berlangsung sama dengan setting dunia yang sebenarnya. Untuk menertibkan Dunia Virtual 2020 ini, akan dibentuk semacam petugas ketertiban dunia virtual pernegara, oleh karena itu, untuk memudahkan petugas ketertiban ini, maka orang-orang yang ingin mengakses Dunia Virtual 2020, harus menggunakan identitas sebenarnya.
Dalam Dunia Virtual ini, interaksi fisik dapat terjadi. Artinya, dalam Dunia Virtual ini para avatar dapat bersalaman, dan melakukan interaksi fisik lainnya selayaknya yang terjadi dalam dunia nyata. Selain itu, kita dapat mentransfer barang dari dunia nyata ke dalam Dunia Virtual. Jadi, nanti petugas ketertiban Dunia Virtual akan melakukan proses decode partikel barang nyata ke dalam partikel digital Dunia Virtual. Hal ini biasa dinamakan teleportasi, seperti yang biasa kita lihat dalam film2. Namun, proses teleportasi ini tidak berlaku bagi manusia sebab dikhawatirkan akan merusak kromosom DNA manusia.
Namun, kemajuan teknologi Dunia Virtual ini juga memiliki kekurangan untuk membuat manusia cenderung mengurangi makna komunikasi langsung/ tatap muka. Seperti yang kita lihat dalam fenomena sehari-hari melalui internet yang tersedia di handphone membuat manusia menjadi lebih asik dengan handphone-nya ketimbang berbicara dengan orang yang duduk di sebelahnya. Begitupun halnya dengan Dunia Virtual yang mempunyai kecenderungan membuat manusia lebih asik dengan Dunia Virtual ketimbang dunia nyata. Semoga saja tidak karena ini baru khayalan kami semata.
daftar rujukan:
dibuat oleh:
Deandra Syarizka (210110080225)
Ixora Tri Devi (210110080284)




1 komentar:
keren..
semoga segera terwujudkan..
Posting Komentar