Alasan terakhir, dan juga merupakan alasan yang paling kuat mengapa Twitter menjadi sangat digemari, adalah sifatnya yang dapat dikonfirmasi oleh banyak orang. Bayangkan, pendapat Anda disetujui oleh 'follower' Anda di Twitter, baik itu di 'reply' apalagi bila di 'retweet'. Tentu Anda akan semakin banyak 'berkicau', karena menganggap diri Anda dikonfirmasi, bukan hanya oleh satu-dua orang, tetapi sesuai dengan jumlah 'follower' Anda. Dengan metode komunikasi yang tradisional, Anda mungkin akan mendapatkan konfirmasi dengan lawan bicara Anda, satu-dua orang, atau mungkin lebih secara berkelompok. Namun, dengan Twitter, Anda seakan-akan memiliki media massa sendiri.
Menurut Fredrick, 'curhat' di dunia maya, apalagi di Twitter, hanya akan menimbulkan masalah baru, karena keterbatasan ruang yang tersedia.Hal ini berkaitan dengan pengalaman Fredrick sendiri yang memiliki akun formspring (situs yang berbentuk tanya-jawab) yang dapat juga diakses lewat Twitter. Sekalipun 'curhat' dengan pakar psikologi, namun tetap saja, solusi yang diberikan tidak akan semaksimal apabila setiap aktor komunikasi bertatapan muka secara langsung. "Keterangan yang diterima oleh yang di'curhati' hanya sedikit-sedikit, tentu saja ini akan menimbulkan permasalahan, karena permasalahannya tidak dapat diketahui secara lebih mendalam. Solusi yang diberikan pun kemungkinan tidak tepat pada sasaran. Inilah yang menjadikan depresi,".
sumber foto : http://ot-indo.blogspot.com/2010/02/kontroversi-twitter-marsha-saphira.html
Pasti tidak sedikit di antara Anda yang sering kali melakukan aktivitas seperti ilustrasi di atas. Padahal, beberapa tahun yang lalu, ngobrol sambil melakukan aktivitas di kamar mandi (apalagi buang air besar), adalah hal yang sangat tabu, bahkan di beberapa daerah hal ini tidak diperbolehkan. Walaupun bukan "ngobrol" dalam arti sebenarnya, dengan gadget yang saat ini tersedia, kita dapat bertukar pesan dengan siapa saja, di mana saja dengan sangat cepat, tergantung pada kekuatan sinyal. Apa yang menyebabkan hal ini?
Jawaban dari pertanyaan di atas adalah Twitter! Twitter adalah sebuah microblog yang saat ini sangat digandrungi oleh warga planet bumi. Sama halnya dengan blog yang digunakan sebagai katarsis bagi pemiliknya, Twitter pun berguna sebagai media penyaluran energi. Sifat Twitter yang unik, yakni terbatasnya karakter (hanya 140 karakter) membuat 'berkicau' menjadi lebih sering dilakukan di masa kini, daripada menulis di blog yang terkesan harus selalu dengan kalimat yang panjang.
Menurut Pakar Psikologi Perkembangan, Fredrick Darmawan Purba, kepada Ixora Tri Devi dari Portal Perempuan, kecenderungan untuk menjadi teradiksi oleh Twitter sangat besar, mengingat penyaluran energi yang bisa dilakukan dalam genggaman. Begitu seseorang ingin meluapkan energinya, ia hanya perlu menggunakan gadget yang sudah ada di tangannya, "Tentu saja ini lebih cepat, daripada harus menemukan seorang teman yang bersedia untuk mendengarkan," ujar Fredrick.
Anda tentu masih ingat dengan kasus Luna Maya, ketika ia memaki pekerja infotainment di Twitternya, yang akhirnya mengundang kontroversi, bahkan perdebatan sengit mengenai status kewartawanan para pekerja infotainment. Ada juga kasus Marsha, pelajar SMA Swasta di kawasan elit Jakarta. Pada 17 Februari, ia menjelek-jelekkan sekolah negeri di Twitternya, spontan ia menjadi trending topic (aplikasi Twitter yang menunjukkan kata apa yang paling banyak di'kicaukan' oleh para pengguna Twitter di seluruh dunia). Makian dan hinaan tidak berhenti dialamatkan pada pelajar berusia 16 tahun ini, yang akhirnya berujung pada dikeluarkannya ia dari sekolah.
Meskipun terdapat kasus-kasus seperti ini, tahukah Anda, bahwa alasan kedua mengapa mencurahkan isi hati di Twitter masih tetap digemari adalah karena pengguna merasakan adanya keamanan untuk curhat di Twitter. "Walaupun ada kasus yang berkaitan dengan curhat di Twitter, namun kan tidak banyak. Jadi cenderung dinilai lebih aman," kata Fredrick.
Penguatan oleh 'massa' Anda di dalam Twitter tentu akan membuat Anda 'berkicau' lagi dan lagi. Mungkin pengguna Twitter yang mendapatkan penguatan tersebut bercita-cita dapat menjadi trending topic layaknya Justin Bieber, oleh karena itu mereka terus menerus 'berkicau'.
Bagaimana pun, yang terpenting adalah jangan sampai kegemaran Anda berkicau berlanjut menjadi penyakit. Pembicaraan masalah yang terus menerus, khususnya tentang kekecewaan cinta dinilai justru tidak membantu dan malah membuat mereka terobsesi. Itulah hasil studi yang dibesut oleh Dr Joanne Davila dan Liza Star, pakar psikologi dari Stony Brook University, Amerika Serikat. "SMS, instant messaging, dan jejaring sosial membuat kaum muda lebih mudah cemas, yang akhirnya bisa berujung pada depresi," papar Dr Davila (http://www.detikinet.com/read/2009/02/02/081021/1077807/398/curhat-di-facebook-bisa-bikin-depresi). Narasumber kita, Psikolog Fredrick, membenarkan pendapat ini.
Untuk menghindari depresi semacam ini, rasanya lebih baik bila kita kembali mendekatkan yang dekat, tidak menjauhkan yang dekat, seperti yang selama ini terjadi apabila kita sibuk dengan dunia maya. Mari curahkan isi hati kita pada mereka yang kita percaya, just like the old time! ;-)
Ixora Tri Devi
210110080284
Sabtu, 12 Juni 2010
Berkicau Jangan Kacau
Diposting oleh Perempuan Punya Berita di 07.26Luna Maya sempat terjerat kasus karena 'kicauannya'.
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)






8 komentar:
ugh yeaaha
hhhaaa..
twitter saya sudah 8 bulan tidak aktif
hhhiiii..
:p
ahahahhaha...bagus!! itu karena kita punya teman di dunia nyata, tidak addict sama dunia maya! ayeyyy
huahahaha... saya mlah gak pnya twitter.. msih ada FB soalnya..
iya benar, banyak juga orang yang suka curhat di status facebook, kan? ahahahaha...
saya sudah punya twitter sejak 5 bulan lau tapi sampe sekarang belum atau lebih tepatnya ga ngerti cara gunainnya..sampe2 lupa paswordnya..haha
Ahahahahha, bagus, Bay! Mengecilkan kans untuk menjadi Twitter-Addict ;-)
wahaw. judulnya bodor. cihuy lah xora.
"Pembicaraan masalah yang terus menerus, khususnya tentang kekecewaan cinta dinilai justru tidak membantu dan malah membuat mereka terobsesi." istilah wkt jaman sy SMP mah, "Benci = benar-benar cinta". wekekek. jadul.
klo sy bnr, manusia punya otak biar bisa mikir kan ya. jadilah sy mengumandangkan, "I love thinking. It solves my problems, and gives me money." haha
Posting Komentar