Minggu, 13 Juni 2010

Bukan Hanya Kuantitas Tetapi Juga Kualitas

saya dengan Mbak Rieke :)

Keterlibatan perempuan dalam aktivitas politik yang belum setara dengan laki-laki, juga kebijakan-kebijakan pemerintah yang belum bisa dikatakan berperspektif gender dipandang sebagai sesuatu yang serius oleh Rieke Diah Pitaloka. Bahwa peningkatan persentase jumlah perempuan dalam parlemen yang meningkat dibandingkan dengan tahun lalu baru bisa dikatakan sebagai kemajuan jika perempuan-perempuan yang terpilih itu memang benar berkualitas.Persoalannya adalah, apakah perempuan-perempuan yang kini menjabat sebagai anggota DPR memang benar berkualitas?

Sebagai seorang wakil rakyat sekaligus juga aktivis perempuan, Rieke Diah Pitaloka sangat vokal dalam menyuarakan pemikiran-pemikirannya mengenai politik yang berperspektif gender. Ditemui di Gedung DPR RI di Senayan, perempuan yang juga dikenal lewat peran “Oneng” dalam sebuah sinetron komedi ini terlihat cantik dengan mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hitam, celana panjang bahan yang juga berwarna hitam, lengkap dengan sepatu hak-nya. Mempunyai wajah yang lembut tidak lantas membuat perempuan yang baru dikaruniai seorang putera ini ragu untuk mengeluarkan pernyataan yang lugas dan tegas. Dengan sesekali mengembangkan senyum, perempuan ini menjawab setiap pertanyaan dengan sabar dan cemerlang. Gaya bicaranya kemudian menjadi “berapi-api” ketika menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan HAM (Hak Asasi Manusia) dan kesetaraan gender, menunjukkan bahwa kedua hal itulah yang menjadi perhatian utamanya sebagai wakil rakyat.

Di sela-sela kesibukan rapatnya, Rieke Diah Pitaloka menyempatkan diri untuk melayani permintaan wawancara Deandra Syarizka, kontributor Portal Perempuan. Berikut adalah cuplikan wawancara antara Deandra Syarizka dengan Rieke Diah Pitaloka yang dilakukan pada saat istirahat rapat gabungan anggota DPR RI, di Gedung Nusantara V:

Bagaimana pandangan Anda mengenai gerakan perempuan Indonesia saat ini?

Di satu sisi ada kemajuan. Kalo kita bandingin dengan gerakan wanita awal tahun 30 saya merasa justru mereka pada saat itu dengan tekanan kolonialisme yang luar biasa tapi bisa menghasilkan sebuah gerakan yang cukup lumayan.Kalau buat saya bagaimana mereka memulainya dengan kesadaran individu, kesadaran individu nanti jadi kesadaran politik , kesadaran politik nanti jadi kesadaran suatu gerakan. Dengan isu-isunya yang juga sampai saat ini belum goal-goal juga. Jadi pada saat itu mereka udah bilang anti poligami, anti perdagangan perempuan. Yang kayak KOWANI (Konres Wanita Indonesia) pada saat itu sudah menyuarakan penghapusan perdagangan perempuan dan anak. Kalo Dewi Sartika tentang persamaan laki-laki dan perempuan,. Ya di bebebarapa sisi sih udah ada kemajuan tapi di sisi lain saya melihat tetep aja yang namanya patriarkinya itu sendiri belum luntur.

Menurut Anda perempuan itu perlu berpolitik tidak?

Kalau buat saya bukan perempuan perlu berpolitik atau tidak. Manusia itu makhluk politik, jadi kalau dia tidak berpolitik, dipertanyakan dirinya sebagai manusia. Kan disebutnya zoon politicon, makhluk politik. Tidak bisa dipisahkan antara manusia dengan politik lepas dari jenis kelaminnya. Jadi, kalo dibilang ngga berpolitik, semua orang sebenarnya sedang berpolitik , cuma masalahnya mereka sadar atau tidak sadar. Lebih baik kita sadar kan, lebih baik kita menjadi pelaku politik daripada kita menjadi korban politik.

Anda sendiri kenapa memutuskan untuk menjadi pelaku politik?

Karena saya udah dulu sama di gerakan mahasiswa kayak gitu, terus aktif di gerakan luar parlemen. Dalam proses itu saya tahu bahwa kalo kita ada di dalam, kita lebih bisa langsung bersentuhan dengan kebijakan yang keluar dan kita butuh partai untuk itu. Tapi partai di sini adalah sebagai alat perjuangan, bukan berarti kita maksudnya bener-bener mengabdi pada partai, engga. Partai itu adalah alat perjuangan. Ideologi partai itu yang kita coba implementasikan

Berbicara mengenai UU No 10 Tahun 2008 yang membahas tentang persentase minimal 30% perempuan dalam bakal calon legislatif. Bagaimana Anda sebagai aktivis perempuan menanggapi hal ini?

Ya itu kan namanya affirmative action. Affirmative Action itu adalah sebuah tindakan yang diterapkan untuk pihak yang “termarjinalkan” posisinya selama ini, sampai batasnya itu adalah ketika sampai pada posisi setara. Jadi tentu saja ketika kesetaraan itu sudah terjadi maka affirmative action itu sudah tidak diperlukan lagi.. Persoalannya adalah kemudian affirmative pertama, affirmative action itu kemudian lewat kuota 30% parlemen itu jangan hanya dilihat dari segi kuantitas tapi juga kualitas karena balik lagi, ketika ini persoalannya jenis kelamin laki-laki dan perempuan, banyak juga lho, perempuan yang tidak memiliki perspektif gender.

Jadi, perubahan kuantitatif yang dalam hal ini undang-undang itu belum cukup untuk mengubah posisi perempuan dalam aspek strategis dan jangka panjang?

Ya sama sekali belum cukup. Apalagi kalau kita lihat dari argumen-argumen yang ada di kawan-kawan komisi aja, kadang-kadang lebih berat persoalan politiknya. Kalau buat saya, oke ini lembaga politik, tapi begitu ini persoalan kemanusiaan, sebenarnya kita harus menanggalkan jaket partai kita. Semua harus berjuang untuk persoalan itu, kalau memang kita mau serius. Kita kan menyatakan sebagai wakil rakyat, bukan wakil pemerintah, begitu. Cuman ya berapa persen sih orang yang punya pemikiran seperti itu? Kalau banyak tentu DPR kita tidak seperti yang disorot publik selama ini kan.

Kalau Anda sendiri selama merasakan kursi legislatif ini, ada tidak perbedaan perlakuan antara anggota DPR laki-laki dan perempuan? Apakah suara perempuan-perempuan anggota legislatif ini benar-benar didengar?

Ya kalau menurut saya kita harus menjadikan suara kita didengar karena itu ketika perempuan punya kesempatan untuk masuk ke wilayah publik, wilayah politik yang itu tidak bisa didapatkan oleh perempuan lain, perempuan itu, perempuan “terpilih” itu harus bekerja secara serius, jangan main-main, dan harus membuktikan bahwa sebagai perEmpuan kita dipilh karena kita layak, bukan karena kedekatan kita dengan pihak tertentu, atau karena kita keluarga dari siapa.. Jangan kita terkungkung sendiri oleh kerangkeng patriarki yang kadang-kadang perempuan sendiri yang mengurung diri dengan itu.

Jadi menurut Anda, kehadiran perempuan dalam parlemen ini bisa memberikan warna baru bagi pemerintahan?

Ya tentu saja bisa, tapi perempuan yang seperti apa, balik-lagi ke situ. Sebagai perempuan, apakah dia punya perspektif gender atau tidak? Jangan-jangan hanya wujudnya saja yang perempuan tapi berpolitik dengan kaca mata laki-laki. Sama aja bohong. Ha..ha..

Ada tidak keterkaitan antara semagat feminisme dengan partisipasi perempuan dalam politik?

Pasti ada. Jadi kalo misalnya untuk seorang perempuan, feminis itu, kekuasaan siapapun, siapapun yang berkuasa, misalnya kalau sekarang oposisi koalisi, mau oposisi kek, mau koalisi kek, kalau kita mengaku sebagai seorang feminis, kita harus kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada yang lemah, kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat, kebijakan-kebijakan yang memiskinkan publik,. Kita harus melawan itu dan tentu saja berpihak kepada korban. . Seorang feminis seharusnya tidak takut bersuara karena dia telah membebaskan dirinya dari keterkungkungan yang paling privat, yaitu patriarki, yang kita peroleh sejak katakanlah balita. Kan paling susah membebaskan dari patriarki itu.

Memangnya menurut Anda bagaimana caranya membebaskan perempuan dari kungkungan patriarki itu?

Jangan mau tunduk terhadap kekuasaan di luar diri kita yang melemahkan kita, terutama itu terwujud dalam rasa takut, takut terhadap A. Jalani saja. Mana kita tahu apa yang kita lakukan itu benar atau salah kalau kita tidak menjalaninya. Yang penting apa yang kita lakukan itu punya prinsip-prinsip tertentu. Tapi kalau kita tidak pernah melepaskan diri dari ketakutan itu, itu kan bias gender, melemahkan, kita tidak pernah jadi jiwa yang merdeka. Makanya saya kalau di setiap pertemuan selalu mengutip apa yang ibu saya katakan “laki-laki dan perempuan itu sbenarnya sama, punya hak yang sama. Kamu juga berhak punya cita-cita dan harus berani mewujudkan cita-citamu. Jangan hanya bermimpi jadi istri dokter, kamu yang harus jadi dokter. Jangan hanya punya cita-cita jadi istri seorang menteri, kamu yang harus jadi menteri. Jangan hanya punya cita-cita jadi istri presiden, kamu yang harus jadi presiden. Meskipun kamu perempuan”, begitu.

Mungkinkah dengan keterlibatan perempuan di parlemen yang tahun ini sedikit meningkat dibanding tahun lalu mampu membuat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah menjadi lebih sensitif jender?

Saya juga tidak bisa mengatakan bahwa kawan-kawan perempuan yang di parlemen in mampu atau tidak. Tapi kalau di awal-awal ini saya lihat, takutnya ini hanya sekedar peningkatan kuantitas saja, bukan kualitas. Kita kan berharap bahwa dengan masuknya perempuan di parlemen itu bagaimana penyelesaian-penyelesaian konflik itu lebih berbahasa perempuan.

Jadi kalau kuantitas perempuan yang meningkat di DPR tidak berpengaruh selama kualitasnya rendah,bagaimana caranya agar kualitas perempuan-perempuan di DPR ini bagus?

Ya butuh dukungan dari luar untuk terus mendorong supaya perempuan-perempuan dan, buat saya sih tidak hanya perempuan, siapa pun, terbuka pikirannya bahwa kita bekerja untuk publik, bukan untuk pihak tertentu. Cara yang kedua adalah, yang seharusnya kita persiapkan saya sih bersama teman-teman yang lain sudah mulai pemetaan dan menjaring teman-teman yang betul, berkualitas, yang memiliki perspektif gender, yang sensitif dengan perjuangan masyarakat untuk 2014 masuk ke parlemen karena kalau engga ya tidak akan ada perubahan di DPR. Makanya perempuan-perempuan yang berkualitas untuk melakukan perubahan kita dorong bersama, apa pun partainya. Dan untuk menciptakan politik berperspektif gender itu harus kita mulai dari sekarang, makanya persiapannya jangan mendadak.


Deandra Syarizka
210110080225

6 komentar:

Aditya Shorea Pratama mengatakan...

klo emang mau bagusin kualitas anggota dewan perempuan, harus dibuktikan dengan tindakan.. ayoo.. terus berjuang perempuan Indonesia

Anonim mengatakan...

Pemikiran-pemikiran ala liberal yang dibawa lewat paham feminis ini memberikan efek yang sangat besar.Gagasan-gagasan yang diusung kaum feminis ini diyakini dapat menyelesaikan persoalan-persoalan perempuan yang nyatanya sampai saat ini juga belum ada perubahan yang signifikan.

Untuk meningkatkan kualitas perempuan, belajarlah dari surat an'nisa.

Bayu Septianto mengatakan...

Hanya perempuan lah yang mengerti tentang permasalahan yang dihadapi kaumnya..itulah pentingnya perempuan dalam politik..

Anonim mengatakan...

Ini soal kesetaraan dan seharusnya bukan menjadi persoalan perempuan saja. Tapi sayangnya, bahkan kaum perempuan itu sendiri banyak yang gak mengetahui probematika kaumnya sendiri. :(

CSB mengatakan...

klo izka bilang ini soal kesetaraan, semoga setara dlm yg baik2nya ya. jgn sampe setara dgn kelakuan nyebelinnya. wakilnya rakyat miskin, tp pake mobil mewah. wakilnya rakyat, tp klo lewat rakyatnya disuruh minggir.

Anonim mengatakan...

terkait dengan kesataraan.
saya jd memiliki pertanyaan bagaimana dengan Wanita "yang sok-sok" seperti lelaki dan bagaimana juga dengan pria "yang sok-sok" seperti perempuan?
bukankah terkadang kenyataan itu menjadi berbanding terbalik dgn jiwa mereka sbg mereka sendiri.
kalau memang anda suka dengan paham feminis, tolong berikan jawaban anda sbg manusia feminis juga.