
Gedung Nusantara I, kantor bagi mereka yang disebut sebagai “Anggota Legislatif”, dengan pakaian yang licin, sepatu mengilat, mobil mewah serta supir yang setia menunggu sebagai perlengkapan kantor. Di pundak mereka, harapan dari seluruh warga negara berlabuh. Di antara anggota legislatif tersebut, Andi Timo Pangerang bergelut dan ikut mengabdi. Dia adalah anak dari Andi Pangerang, dokter terkenal di Sulawesi Selatan.
Keinginan Andi Timo, yang akrab dipanggil Puang Bio’, untuk dapat berpartisipasi pada bangsa dan negara sangat besar. Sebelum menjadi anggota legislatif di Senayan, ia mengikuti pemilihan Wakil Walikota Palopo, Sulawesi Selatan. Meskipun tidak berhasil menjadi wakil walikota, kegagalan itu tidak memupuskan hasratnya untuk mengabdi.
Menjadi satu dari seratus wanita yang menjabat di DPR RI, naluri untuk membela kaumnya, kaum hawa, senantiasa membimbingnya untuk menyampaikan aspirasi wanita Indonesia. Bagi Andi Timo, wanita yang menjadi anggota legislatif adalah wanita pilihan, meskipun jumlahnya sedikit, tapi mereka gesit.
Ditemui di kantornya setelah rapat Komisi XI DPR RI dengan Gubernur BI dan Departemen Keuangan, Rabu, 25 November 2009, Andi Timo, yang dijuluki sebagai "Srikandi dari Luwu" dengan bangga mengenakan kain batik. Ia menceritakan berbagai lika-liku pengabdiannya, serta pandangannya mengenai berbagai macam isu aktual kepada Ixora Tri Devi, dari Portal Perempuan. Berikut petikan hasil wawancara.
Siapa yang menginspirasi Anda untuk menjadi seorang politikus? Ayah Anda?
Engga, waktu dia muda, dia aktivis di NU, kemudian di dewan mahasiswa, tapi setelah ia bekerja ia cenderung lebih ke profesinya, dan dia lebih berkomitmen untuk bagaimana memajukan kesehatan kita waktu itu. Sehingga dia juga tidak praktek, dia betul-betul di struktural, di departemen kesehatan. Jadi, dia enggak politik. Darah politiknya dapatnya dari kakek, baik dari ayah maupun dari ibu saya, semuanya politikus.
Kalau dari ibu saya, kakek saya itu pernah jadi anggota MPR seperti yang saya alami, dia juga pernah jadi anggota DPR Sulawasi Selatan, seperti yang saya juga alami periode sebelumnya. Dia itu orang Bugis pertama yang jadi bupati di Jawa, waktu itu dia bupati di Pati, jadi di jamannya dia memang politikus.
Sejak melihat kakek Anda tersebut, Anda ingin terjun ke dunia politik?
Sebenarnya pada waktu itu saya belum tau akan terjun di dunia politik, karena pada waktu masih kecil-kecil, saya itu dibesarkan, sebagian besar, dibesarkan sama kakek, sama-sama dengan saudara yang lain. Bersama-sama dengan Andi Malarangeng. Semua bersama-sama. Ayah-ibu saya tugas di tampat lain. Kami dibesarkan di kakek. Waktu itu sebenarnya cita-cita saya lebih tertarik dengan angka-angka.
Tertariknya dengan angka-angka tapi lajutnya di pertanian, yah?
Pada saat menyelesaikan masa SMA, mau mendaftar ke universitas, keinginan saya untuk masuk ekonomi. Ada keinginan dari ibu saya supaya meneruskan karir mereka. Ayah saya dokter, ibu saya dokter, mereka menginginkan saya juga untuk masuk kedokteran, tapi saya itu punya sifat dari kecil itu takut lihat darah. Penakut banget lihat darah, lihat darah pingsan, lihat darah pingsan. Ibu saya tahu kendala itu. Nah saya bilang, “Mam, saya mau masuk ekonomi”, karena saya suka angka-angka. Ada terebersit sedikit kekecewaan di ibu saya. Mengatakan, aduh nak kau sekolah IPA, jaman dulu ada IPA, IPS, Bahasa, kamu sekolah IPA sebaiknya masuk bidang-bidang eksakta. Saya bilang, “Aduh mam saya di mana, kedokteran saya tidak bisa. Tehnik? Saya juga tidak bisa, saya tidak tau gambar-gambar garis lurus itu kan, saya tidak ngerti”. Akhirnya ada satu bidang, di pertanian. Pertanian itu mengenai tanaman, sawah, padi, tanaman hias. Aku bilang, wow itu lebih menarik dibanding lain-lain yang di eksakta. Akhirnya saya memilih pertanian.
Cita-cita Anda ketika masih kecil?
Pengen jadi suster
Karena lihat ayah-ibu dokter, jadi ingin bantu?
Oh, engga. Aku rasa suster itulah yang pertama nolong orang. Biasanya kan suster dulu periksa-periksa, dokternya nanti belakangan dipanggil. Kayaknya suster itu helpfull banget.
Ketika Anda SMP atau SMA sudah aktif berorganisasi?
Sudah.
Tepatnya sejak kapan?
Sebenarnya ilmu manajemen otodidak itu sudah saya dapat sejak SD. Saya SD kelas 4 saya sudah diserahi tugas tangung jawab untuk menjaga adik-adik saya. Kemudian orang tua saya, karena pegawai negeri, itu pindah-pindah tugas. Jadi, saya sebagai kakak sekaligus ibu daripada adik-adik saya. Dari SD kelas 4 saya sudah harus menjaga adik saya, mengawasinya, mengawasi belajarnya, me-manage uang belanja rumah tangga.
Kemudian ketika beranjak besar, saya sudah mulai aktif terus di organisasi sampai kuliah. Waktu SD pun saya lulus dengan mendapatkan siswa teladan. Dan saya dua kali sebenarnya tamat SD. Karena terlalu cepat. Jadi, saya harus tinggal lagi, dua kali saya mengalami kelas 6, jadi saya punya dua ijazah. Saya pernah lompat-lompat kelas. Waktu kuliah, di awal kuliah saya siswa teladan, di akhir kuliah pun saya mahasiswa teladan. Kita waktu itu diundang ke istana negara. IPK saya, saya sudah lupa yah, tapi tidak jauh-jauh dari 3.8 kalau keseluruhan.
Sebelum jadi anggota DPR RI, Andi jadi anggota DPRD….
Provinsi, itu tahun 2004 sampai 2008, harusnya kan 2004-2009, tapi saya karena pindah partai dari PDK ke Demokrat, jadi saya harus PAW. Akhir 2008 saya PAW, karena saya sudah menjadi Caleg dari partai Demokrat.
Anda masuk ke DPR ini persepsinya bagaimana? Apakah untuk partai, untuk diri sendiri, untuk daerah yang memilih Anda, atau bagaimana?
Tentu yang paling utama masuk DPR RI adalah pengabdian, untuk bangsa dan negara, kalau lebih khusus sekali saya ingin mengabdi pada daerah pemilihan saya. Kalau lebih supra khusus lagi, pada daerah Sulawesi Selatan saya mengabdi, supra khusus lagi, pada daerah pemilihan saya. Dapil 3 Sulawesi Selatan.
Anda aktif di Parpol awalnya di PDK, bersama Andi Alfian Malarangeng?
Iya!
Bisa diceritakan bagaimana mulanya?
Mulanya aktif itu tahun 2002, di Sulawesi Selatan Pak Ryas dan Pak Andi Malarangeng waktu itu ingin memperkenalkan dan membikin kepengurusan di tingkat provinsi Sulawesi Selatan. Dia ke Sulawesi Selatan, kemudian bertemu. Saya bertemu beliau-beliau bersama yang lain. Kemudian saya merasa ini cocok untuk saya, ini partai tengah, tidak di kiri, tidak di kanan, ini partai tengah, partai moderat, dan ketika saya diajak untuk bergabung saya memutuskan untuk bergabung.
Seiring berjalannya waktu, karena partai baru, jadi banyak cari kader. Tidak terasa sudah sampai batas waktu pencalegan. Waktu itu ada iklim kondusif tentang masuknya perempuan di bidang politik, karena waktu itu UU quota 30%, lagi gencar-gencarnya. Jadi, benar-benar mengundang kita perempuan untuk ayo! Masuk! Kayak gimana sih dunia politik ini, dunianya laki-laki, dunia macho, dunia yang keras gitu kan, dunia yang ah, pokokya dunia yang laki-laki sekali. Aku penasaran juga.
Kita di Sulawesi Selatan akrab sekali di antara semua pelaku politik perempuan, perempuan politik. Yah, ada simpul yang mengikatkan kita, tidak melihat warnanya, jaketnya, partainya. Tapi, ada satu simpul, yang kita lihat adalah sisterhood-nya, yang mengikatkan kita, namanya simpul aspirasi perempuan Sulawesi Selatan. Partai mana pun as long you are perempuan, yuk mari kita masuk di situ. Kita jalin rasa persaudaran perempuan dulu, kemudian kita saling mendukung.
Ada undang-undang yang mengatur quota 30% calon legislatif perempuan, ada tidak, anggota legislatif perempuan yang, Anda rasa, cuma memenuhi quota 30% tersebut?
Ini kalau kita bicara 2004, kan banyak partai-partai yang komitmen memasukkan 30% perempuan dalam daftar Calegnya. Namun, kemudian waktu itu kendalanya minat perempuan yang sedikit, minat perempuan pada waktu 2004 itu. Jadi, mereka setengah mati nyari, mana perempuan-perempuannya? Nah, sehingga ada keluarganya dibujuk, istrinya dibujuk. Tapi tidak ada keseriusan dalam menjadi Caleg itu, karena waktu itu, 2004, keterwakilan kita menurut nomor urut kan. Jadi, kalau udah nomor urut 7, 5, kayaknya sudah hopeless, kalau sebagai partai baru, yah. Udah hopeless untuk masuk.
2009 lebih baik, dalam arti, pertama dalam berjalannya waktu, kita lihat makin banyak perempuan yang terjun di dunia politik. Kita bicara daerah-daerah yah, kalau di Jakarta banyak tapi kalau di daerah kan susah. Jadi, sudah banyak. Dengan seiring jalannya waktu, sehingga ketika terbuka pencalegan, 30% perempuan. Perempuan jadi lebih mudah. Nah, pertama karena sudah banyak yang terjun di politik, seiring jalannya waktu. Kedua, sistem yang diterapkan sekarang ini free fight competition, mau di nomor urut 7, 9, tetap peluangnya sama dengan nomor urut 1, karena suara terbanyak. Jadi, akhirnya kalau saya lihat, benar-benar tahun 2009 ini, yang namanya tercantum jadi Caleg, itu yang bener-bener serius. Serius mejalani jadi Caleg.
Jadi, pada 2004, ada anggota DPRD Sulawesi Selatan yang hanya untuk memenuhi quota 30%?
Saya kira banyak yah di pasang nama-nama perempuan.
Yang terpilih?
Tidak ada! Karena memang kan, kalau yang dipasang-pasang itu mereka tidak serius menjalaninya. Pertama, karena mereka bukan politikus, kedua mereka udah hopeless duluan, ah gw nomor urut 5, nomor urut 7, karena 2004 itu sistemnya sistem nomor urut, jadi tidak ada yang masuk. Kalau yang sekarang beda. Tidak ada yang bilang, “Eh, gw kebetulan masuk” tidak ada itu. Tidak ada cerita tidak ada perjuangan. Perjuangan itu!
Perempuan di DPR RI, menurut Anda, apakah sudah banyak, yang gigih memperjuangkan hak-hak perempuan?
Ya banyak, yah. Artinya semua perempuan di DPR ini ada perempuan pilihan. Dipilih oleh rakyat, bukan yang kebetulan, “Aduh saya kebetulan jadi anggota dewan”, tidak ada kebetulan di sini, itu benar-benar melalui perjuangan dan pilihan. Dipilih oleh rakyatnya dalam free fight competition. Kedua kalau kita lihat, perempuan yang masuk ini memang juga perempuan yang berkualitas, baik dalam kepemimpinannya, maupun dalam kompetensi ilmunya masing-masing. Kalau yang sejauh saya lihat, terutama dalam patai saya sendiri, memang hebat. Terutama dari kepemimpinannya sendiri, dari sifat itu. Yang kedua, kompetensi dari ilmunya. Kalau yang bilang gigih memperjuangkan perempuan, saya kira itu sudah lahiriah, lahir dari kita. Bagaimana kita memperjuagkan sesama nasib. Walaupun, kita tidak merencanakan, secara otomatis ketika ada perempuan terpojok kita pasti langsung ngomong. Itu saya rasa otomatis, yah, karena rasa sisterhood itu tadi.
Jadi, Anda rasa perempuan yang buta politik atau asal masuk yang lolos sampai DPR RI tidak ada?
Sejauh penagamatan saya, tidak ada itu. Benar-benar berjuang untuk masuk. Tidak ada tuh yang bilang, “Aku tidak pernah kerja tuh, aku tidak pernah turun ke Dapil, aku tidak pernah apa, kok aku bisa masuk”. Tidak ada tuh cerita kayak gitu, menurut saya tidak ada.
Menurut Anda, mereka sudah berkompeten?
Yah, jadi paling enggak yang kompetensi dia, dia tau. Jadi dewan itu kan general banget. Misalnya saya, saya di komisi XI, saya paham ilmu ekonomi, tapi ketika kita bicara tentang statistik, BPK, pengawasan, kan jadi lain. Ketika kita membahas Pansus apa pun, kan jadi lain. Karena kita punya ilmu itu heterogen, kita general kalau di dewan, tapi tidak bisa kalau cuma accounting, accounting terus, tidak bisa.
Harus tahu semua?
Harus mengerti semua. Tau lebih dalam ketika kau bertugas di situ, tapi ketika tidak betugas, it’s okay. Sekarang saya mengerti semua, tapi kalau saya jadi anggota Pansus, tentu saya harus ada pendalaman, saya harus lebih tau lagi.
Apa harapan Anda akan perempuan-perempuan yang ada di DPR?
Kalau harapan saya sih, kalau di DPRD juga saya bilang, walaupun kami minoritas, tapi kami tidak bisu. Kami minoritas, kami hanya kurang lebih seratus orang. Walapun kami minoritas, tapi kami tidak bisu. Seratus orang ini, punya kompetensi yang baik, punya kemauan untuk memperbaiki atau untuk yang terbaik bagi negeri ini. Sehingga, seratus orang ini semuanya bisa memberi kompetensi pemikiran yang berarti bagi bangsa dan negara ini dalam mengambil kebijakan. Jadi, perempuannya tidak pada diem. Coba liat deh, di komisi-komisi kalau rapat, perempuannya tidak pada diam tuh. Pasti juga “Andi Timo, pimpinan! Andi Timo, pimpinan!”.
Anak?
Tiga, putri semua
Masih di Makassar?
Anak saya tidak ada yang di Makassar, anak saya di sini.
Kuliah?
Yang tua di fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, yang kedua, mau masuk uni, dia sekarang high school di A Level, Kuala Lumpur. Yang ketiga di kelas 5 SD, jadi jaraknya jauh sekali, umur sepuluh tahun, di Jakarta, sama saya.
Kenapa memutuskan untuk menyekolahkan anak yang kedua di Malaysia? Tidak percaya sama pendidikan dalam negeri?
Oh enggak, dia sudah dari SMP. Saya menginginkan, anak saya kan semua perempuan, saya melengkapi perjalanan hidupnya itu, saya ingin mereka mandiri. Mandiri artinya bisa mengurus dirinya sendiri, mengurus keuangannya sediri. Mereka mengurus kapan dia harus main harus belajar. Time manage by dia sendri.
Memang semua anak itu saya kirim untuk bisa mandiri. Yang tua itu SMA tamatnya di Amerika, sudah itu dia lanjut lagi sekolah di Cina. Terus kemudian karena dia tertarik dengan ilmu kedokteran, saya bilang, lebih baik kamu kuliah dalam negeri. Karena dokter dalam negeri lebih dibutuhkan. Jadi, dia pulang ke sini, yang kedua sejak SMP saya kirim ke Malaysia. Yang kecil, sejak dia kecil, kelas 3 sudah saya kirim dia ke Jakarta, saya kan tinggal di Makassar, dia tinggal sama neneknya.
Anda melatih anak-anak Anda supaya seperti Anda?
Mandiri dan, dia tau bahwa hidup itu kita harus struggle. Dia berjuang dia menjadi dirinya sendiri, berjuang karena dirinya sendiri, apa pun karena dirinya sendiri. Seperti saya, ibu saya juga seperti itu ke saya. Bagaimana saya bisa eksis dengan nama saya sendiri, itu juga butuh perjalanan panjang.
Ixora Tri Devi
210110080284
Sabtu, 12 Juni 2010
“Kami Minoritas, Tapi Kami Tidak Bisu”
Diposting oleh Perempuan Punya Berita di 09.42
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)




7 komentar:
hidup perempuan Indonesia!!!!
Politik juga membutuhkan sosok seorang perempuan dalam menentukan kebijakan2, seperti kebijakan yang mengarah kpada keluarga atau perempuan..
karena mereka lah yg paling mengerti tentang hal2 seperti itu..
Walaupun minoritas, tapi msih dibutuhkan aspirasi dri para anggota dewan perempuan.. dan inget.. klo gak ada perempuan, mau jdi apa negara ini....
setuju sekali bung Adit dan bung Bayu!!!
yey! hidup perempuan Indonesia. Semoga perempuan-perempuan hebat yang ada di gedung Nusantara I benar-benar bisa berbuat banyak untuk negara ini, aamiin!
Andi Timo diangkat jadi Ketua Umum Kaukus Perempuan Parlemen (KPP) RI, pada 12 Februari 2010. Semoga saja Andi Timo bisa membuktikan kehebatan perempuan DPR seperti hasil wawancara di atas, yah, teman-teman. Aamiin.
(yg sblmnya ada yg ketinggalan)
halo xora. sy mah berharapnya perempuan2 di DPR spt ibu ini tdk ikutan arogan spt laki2nya. jd klo yg cowo2 lg tidur, ya tolong dibangunin. klo lg facebook-an, tolong diingetin itu sdg rapat, klo lg mau pukul2an, tolong dilerai. kasian mereka itu cowo2 disediakan ruangan ber-AC tp pikirannya panas banget. yg parah malah dikasi baju bagus, malah dipake bertinju padahal belum pernah latihan sebelumnya.
eh tp sy cowo ya? untunglah sy bukan wakilnya rakyat -yg kebanyakan tdk mewakili- amin.
Posting Komentar