Naskah yang kental nuansa komedi ini kini dipentaskan ke sekian kalinya oleh Studiklub Teater Bandung (STB) pada Kamis (3/6) dalam rangka ujian akhir Acting Course XXI. STB yang merupakan klub teater tertua di Indonesia rutin menyelenggarakan Acting Course (AC) , sebuah kursus akting yang terbuka bagi umum yang mempunyai ujian akhir berupa pementasan. Pada AC ke XXI ini untuk kedua kalinya STB memilih naskah Lysistrata karya Aristophanes untuk dipentaskan.
Sutradara pementasan Lysistrata, IGN Arya Sanjaya mengatakan bahwa dirinya memutuskan untuk mengadaptasi naskah tersebut ke dalam nuansa punk. “ Naskah ini kan bercerita tentang perlawanan, pembebasan. Iya, jadi kita ambil spirit pembebasan yang ada dalam punk”, ujarnya ketika ditanya. Pementasan yang dilakoni oleh sepuluh orang tersebut menggunakan kostum punk dan setting jalanan.

Adapun karakter perempuan dalam naskah Lysistrata beragam. Tokoh utama, Lysistrata, digambarkan berwatak tegas dan berwibawa. Lain halnya dengan tokoh Calisa yang diperankan dengan centil oleh Dora Bunga. Beberapa dari aktor beranggapan bahwa naskah ini sarat dengan nuansa feminisme sebab ceritanya menggambarkan perlawanan yang dilakukan perempuan.
Namun, hal itu dibantah oleh Yogi Imamuddin, sutradara Gelanggang Seni Sastra Teater Film Unpad, yang saat itu juga menonton pementasan Lysistrata, “Naskah ini memang mengandung nuansa emansipasi tetapi tidak bisa dikatakan feminisme sebab masih terdapat stereotype yang buruk tentang perempuan”, ujarnya.
Memang, beberapa dialog yang terdapat dalam naskah Lysistrata masih menggunakan bahasa yang bias jender, yang tentu saja mengandung stereotype yang buruk tentang perempuan. Salah satunya terdapat dalam dialog yang diucapkan Lysistrata di adegan awal
: “Ah, dasar perempuan! Bila diundang ke pesta terus semrintil dengan riuhnya! Bila sedang bergunjing berceloteh dengan hebohnya! Tapi saat diajak mengatasi kegawatan ke mana mereka? Tak ada batang hidungnya kelihatan!”Bahasa bias jender lainnya ditemukan dalam dialog antara Lysistrata dengan Calisa:
Lysistrata” Ini persoalan negara, dan hanya bisa diselamatkan oleh perempuan!
Calisa: “Oleh perempuan? Wah, kalau begitu sudah tipis harapan negara kita?
Dan masih terdapat beberapa dialog lainnya yang sarat bias jender. Begitulah, naskah kuno ini meskipun sudah mengandung nuansa emansipasi di dalamnya tetap masih kental dengan stereotype yang buruk tentang perempuan. Bahwa citra perempuan dalam naskah ini masih saja dipandang dari kacamata laki-laki. Seperti yang dikatakan oleh Simone de Beauvoir dalam The Second Sex "bahwa bahkan untuk mendefinisikan keeksistensian perempuan itu sendiri, masih saja dikaitkan dari keeksistensian laki-laki. Perempuan adalah The Other dari laki-laki". Dan nuansa komedi yang membalut naskah ini malah menyamarkan kesan patriarkinya.





9 komentar:
kata-kata eksistensi perempuan yang baru saja saya dengar dari "Indonesia Mencari Bakat" di Trans Tv:
"if boys can do, girls can do it better"
D.D
K1A070244
header kalian kok kayak begitu? gak sesuai dengan semangat kesetaraan gender dalam tulisan-tulisannya. gambar perempuan berbikini kan kasih kesempatan laki-laki mengeksplorasi atau mengafirmasi imajinasi tentang tubuh perempuan. terus, tulisan dalam blog kalian ini kebanyakan seperti terburu-buru-baru sentuh permukaan persoalan sudah segera diselesaikan.. nafasnya perpanjang lah.
Izka banget pokoknya..
Minus banget para pria yang mikir perempuan selalu dibawah..
So so tradisional..
oh iya Lysitrata = DeandraSyarizka abad ini... ^^
Terima kasih semua atas apresiasinya. Kami sudah mengganti template blog kami, terima kasih sarannya. Mengenai tulisan kami yang kurang dalam, iya akan kami perbaiki lagi ke depannya. Kami masih dalam pembelajaran.
Dimce, lebay bangeeey ahhh.. :p
Teater memiliki pendekatan multi-dimensi yakni pendekatan konseptual-tekstual dan pelukisan sekaligus. Pendekatan konseptual-tekstual mencakup pengolahan serta penggalian dan analisis atas realitas sosial dan pengalaman hidup yang dijalani. sedangkan pelukisan itu adalah aktualisasi pesan dalam cerita, seni peran maupun artistik. mungkin klo hal ini digarap serius,pertunjukannya pasti jauh lebih bagus.
Tp apapun isinya, dengan teknik pertunjukan seperti itu,tidak realis, tanpa ada jarak dengan penonton (nyanyian,tarian,artistik,make-up dll). penonton diajak berkontemplasi dan kritis pada isi maupun adegan2 yg dihadirkan,tidak ikut larut dalam cerita.
ini yang settingnya Punk itu bukan?
karena kami media musik, jd taunya cm itu...hahahhaha
wah tulisannya tentang perempuan semua ya,,ga ada tentang lelakinya.hehe..
ya iyalah, namanya juga portal perempuan..
Tulisannya tentang kesetaraan, dan ketika membicarakan kesetaraan sebenarnya tidak hanya soal perempuan saja tetapi juga lelaki. :)
Posting Komentar