Sabtu, 12 Juni 2010

Pementasan Nyai Ontosoroh : Megah dan Hampa

Tokoh yang menurut saya merupakan tokoh utama di Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, bukanlah Minke, melainkan Nyai Ontosoroh. Kharisma yang ia miliki, sebagai wanita inlander cerdas, bergengsi, dan yang selalu berjuang hingga akhir tentu saja tidak hanya memukau saya. Buktinya, pada 2007 Faiza Mardzoeki mengangkat sosok Nyai Ontosoroh, alias Sanikem, ke atas pentas theater. Yang didapuk untuk menjadi sutradara adalah Wawan Sofwan, dan yang memerankan Nyai Ontosoroh pada saat itu adalah Happy Salma.

Tiga tahun sejak Faiza mementaskan Nyai Ontosoroh untuk pertama kali, tepatnya pada tanggal 7 Mei 2010, saya menyaksikan sendiri pementasan Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh yang bertempat di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Pementasan yang saya saksikan pada hari itu adalah versi yang diperpendek dan hanya dimainkan oleh empat orang. Kali ini, yang menjadi Nyai Ontosoroh bukan lagi Happy Salma, melainkan Sita Nursanti, anggota trio Rida-Sita-Dewi (RSD), yang sebelumnya juga ikut mementaskan drama musikal Nyai Dasima.

Scene ketika Annelis meninggalkan mamanya seharusnya menimbulkan 'kehampaan' dalam hati, bukan kehampaan harfiah.

Kharisma Nyai Ontosoroh yang 'megah' dapat dibawakan dengan sangat baik oleh Sita. Dari awal kemunculannya, ketika ia menenteng 'koper kusam keramat', pun sudah sangat meyakinkan. Staminanya tetap terjaga dari awal hingga akhir pertunjukan yang berdurasi kurang lebih dua jam. Awalnya, saya sempat berpikir bahwa ini akan menjadi pertunjukan monolog, sampai akhirnya Willem Bever (Herman Mellema) muncul ke atas pentas, dan mulai beradu akting dengan Sita. Selain Willem Bever, juga ada Bagus Setiawan (Minke), dan Agni Melati (Annelis).

Seperti halnya film, visualisasi yang diangkat dari novel, pasti akan sangat susah untuk memuaskan penikmatnya. Begitu pula dengan pementasan Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh ini. Ya, karakter Nyai Ontosoroh memang sudah sangat pas, namun, ketiga lawan main Sita membuat saya berpikir, pementasan ini mungkin akan lebih baik bila dijadikan monolog. Belum lagi kekacau-balauan teknis yang terjadi malam itu, bersangkutan dengan masalah pencahayaan. Walaupun kesalahan teknis ini menambah salut saya kepada Sita yang tetap dapat berakting maksimal di atas kekurangan ini.

Faiza yang sepertinya tidak ingin kehilangan momen dari setiap halaman di Bumi Manusia pun memasukkan semua bagian dari novel. Keputusan memasukkan semua bagian ke dalam pementasan ini mungkin dimaksudkan untuk memberi detail agar yang tidak membaca Bumi Manusia dapat mengerti cerita, namun sayang sekali, hal ini justru menimbulkan kebosanan. Teman yang bersama saya pada malam itu berkali-kali menanyakan "Ini masih lama?,".
Teman-teman dan saya berfoto bersama Sita yang sepertinya masih 'kumpul nyawa' seusai pementasan.

Namun, keputusan untuk memasukkan setiap detail dari Bumi Manusia juga memiliki nilai positif. Terutama pada bagian-bagian yang mengkritik kebiadaban kaum imperial. Pada scene pengadilan, menuju akhir pertunjukan, ketika Annelis akan dibawa ke Belanda, Nyai Ontosoroh berujar, "Tuan-tuan adalah Eropa yang pemeras!,". Bagian favorit saya adalah ketika Nyai Ontosoroh dan Sanikem kecil menari bersama Herman. Saat itu gerakan Nyai dan Sanikem sama persis, sangat kompak!


Meskipun demikian, tetap saja, saya tidak dapat mengalami kembali 'kekosongan' dan 'kehampaan-yang-membuat-menangis' yang saya rasakan ketika mencapai bagian akhir dari Bumi Manusia, yakni ketika Annelis harus pergi dari rumah Nyai. Padahal saya sangat menunggu-nunggu bagian akhir ini. Ya, saya memang merasakan kekosongan dan kehampaan, namun itu dalam arti sebenarnya, dan sama sekali tidak membuat saya ingin meneteskan air mata. Oleh karena itu, secara keseluruhan pementasan, saya mengagumi kehebatan vokal Sita dan pemain lain, serta kejagoan mereka dalam menghapal naskah, itu saja.




Ixora Tri Devi
210110080284

Daftar Rujukan :
Tempo Edisi 17-23 Mei, halaman 56

Foto oleh Tiara Syahra Syabani

11 komentar:

Perempuan Punya Berita mengatakan...

ugh yeaaaah... :D

Cabaca Buku mengatakan...

yeah, aku ga nonton. :(
hahaha. salut tapi buat pmentasan ini. cheers :)

zoom.in mengatakan...

sayang sekali saya tidak menontonnya :(
keren2 :D

Anonim mengatakan...

lightingnya amburadul.

sendokgarpupiring mengatakan...

totally cool nih teaternya
saya yang tadi ga ngerti jadi terkesima...

trimakasih agan xora foto saya dipake, fotonya keren yah. hahahahha

Perempuan Punya Berita mengatakan...

yeah..lightingnya sayang sekali.. endingnya pun demikian :-P.

ahahahaha, terimakasih mbak sendok garpu piring atas foto kerennya :D

Aditya Shorea Pratama mengatakan...

pengen nonton dri dulu.. syang gak ada kesempatan.. emang bgus ya katanya?

Perempuan Punya Berita mengatakan...

humm..gimana yaa, susah bilang bagus buat visualisasi yang diangkat dari buku, kan? konon yang berhasil cuma segelintir, kaya Forest Gump (filmnya emang oke bgt, tapi xora belum baca bukunya).

Ga usah jauh-jauh, liat aja kritik buat film Harry Potter, sekeren apa pun efek yg dipake, tetap aja dicerca. Kan?? :D

Bayu Septianto mengatakan...

iya ya, susah ya kalo buat film dari cerita sebuah buku..ga usah jauh2 Harry poter, liat aja laskar pelangi dan sang pemimpi, banyak banget kekurangannya kalo kita udah baca dan ngerti jalan cerita nya dari buku..Pasti ada yang kurang..

Selamet Morning mengatakan...

yep bener banget..

Perempuan Punya Berita mengatakan...

Nah! Itu dia, contoh yang paling deket emang Laskar Pelangi, xora ga kepikiran :-P. Waaaaaay below our expectation, kan? hehehehehehe. Emang suliiiiit! Tapi, apresiasi aja, toh itu juga karya :-D.