Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Juni 2010

Perempuan Dalam "Lysistrata"

pementasan Lysistrata


Lysistrata merupakan naskah teater kuno yang ditulis filsuf terkenal Aristophanes. Naskah ini bercerita tentang perlawanan perempuan terhadap perang yang dilakukan lelaki. Dalam naskah ini diceritakan bagaimana para perempuan melawan kekerasan dengan kelembutan, bagaimana mereka memprotes suami-suami yang tidak mengacuhkan mereka selama masa perang dengan melakukan pemogokan asmara (menolak berhubungan seks).

Naskah yang kental nuansa komedi ini kini dipentaskan ke sekian kalinya oleh Studiklub Teater Bandung (STB) pada Kamis (3/6) dalam rangka ujian akhir Acting Course XXI. STB yang merupakan klub teater tertua di Indonesia rutin menyelenggarakan Acting Course (AC) , sebuah kursus akting yang terbuka bagi umum yang mempunyai ujian akhir berupa pementasan. Pada AC ke XXI ini untuk kedua kalinya STB memilih naskah Lysistrata karya Aristophanes untuk dipentaskan.

Sutradara pementasan Lysistrata, IGN Arya Sanjaya mengatakan bahwa dirinya memutuskan untuk mengadaptasi naskah tersebut ke dalam nuansa punk. “ Naskah ini kan bercerita tentang perlawanan, pembebasan. Iya, jadi kita ambil spirit pembebasan yang ada dalam punk”, ujarnya ketika ditanya. Pementasan yang dilakoni oleh sepuluh orang tersebut menggunakan kostum punk dan setting jalanan.


para pemeran Lysistrata


Adapun karakter perempuan dalam naskah Lysistrata beragam. Tokoh utama, Lysistrata, digambarkan berwatak tegas dan berwibawa. Lain halnya dengan tokoh Calisa yang diperankan dengan centil oleh Dora Bunga. Beberapa dari aktor beranggapan bahwa naskah ini sarat dengan nuansa feminisme sebab ceritanya menggambarkan perlawanan yang dilakukan perempuan.

Namun, hal itu dibantah oleh Yogi Imamuddin, sutradara Gelanggang Seni Sastra Teater Film Unpad, yang saat itu juga menonton pementasan Lysistrata, “Naskah ini memang mengandung nuansa emansipasi tetapi tidak bisa dikatakan feminisme sebab masih terdapat stereotype yang buruk tentang perempuan”, ujarnya.

Memang, beberapa dialog yang terdapat dalam naskah Lysistrata masih menggunakan bahasa yang bias jender, yang tentu saja mengandung stereotype yang buruk tentang perempuan. Salah satunya terdapat dalam dialog yang diucapkan Lysistrata di adegan awal

: “Ah, dasar perempuan! Bila diundang ke pesta terus semrintil dengan riuhnya! Bila sedang bergunjing berceloteh dengan hebohnya! Tapi saat diajak mengatasi kegawatan ke mana mereka? Tak ada batang hidungnya kelihatan!”
Bahasa bias jender lainnya ditemukan dalam dialog antara Lysistrata dengan Calisa:

Lysistrata” Ini persoalan negara, dan hanya bisa diselamatkan oleh perempuan!

Calisa: “Oleh perempuan? Wah, kalau begitu sudah tipis harapan negara kita?

Dan masih terdapat beberapa dialog lainnya yang sarat bias jender. Begitulah, naskah kuno ini meskipun sudah mengandung nuansa emansipasi di dalamnya tetap masih kental dengan stereotype yang buruk tentang perempuan. Bahwa citra perempuan dalam naskah ini masih saja dipandang dari kacamata laki-laki. Seperti yang dikatakan oleh Simone de Beauvoir dalam The Second Sex "bahwa bahkan untuk mendefinisikan keeksistensian perempuan itu sendiri, masih saja dikaitkan dari keeksistensian laki-laki. Perempuan adalah The Other dari laki-laki". Dan nuansa komedi yang membalut naskah ini malah menyamarkan kesan patriarkinya.

Deandra Syarizka
210110080225

Sabtu, 12 Juni 2010

Belajar Berbahasa, Yuk!


Bahasa merupakan alat komunikasi sehari-hari. Ia merupakan alat untuk menyampaikan pesan secara verbal dari komunikator kepada komunikan. Menurut KBBI, bahasa adalah sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Setiap hari semua orang berbahasa. Jadi, untuk apa lagi belajar berbahasa jika setiap saat kita menggunakannya?

Justru, Kawan, karena bahasa hampir digunakan setiap saat maka kita harus belajar menggunakan bahasa yang baik dan benar. Sayangnya, tidak setiap orang memiliki kesadaran untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar tersebut sehingga kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa yang asal-asalan. Parahnya lagi, bahasa yang asal-asalan itu berdampak tidak adil bagi suatu pihak, dalam kasus ini adalah perempuan.

Perempuan? Ada apa dengan perempuan? Coba perhatikan dengan seksama , dalam keseharian kebanyakan dari kita menggunakan bahasa yang tidak adil terhadap perempuan – kalau istilah kerennya—bahasa yang bias jender. Dan sedihnya, bahasa yang bias jender itu tidak hanya digunakan oleh kaum lelaki saja, bahkan kaum perempuan itu sendiri menggunakan bahasa yang bias jender tanpa sadar. Hal itu disebabkan bahasa tersebut sudah sering digunakan dalam keseharian sehingga menjadikannya lumrah, wajar, dan seakan-akan benar. Dalam buku The Second Sex karangan Simone de Beauvoir dikatakan “perempuan tidak menyadari ketidakberdayaannya tetapi menerimanya sebagai suatu kewajaran”. Pun dalam soal berbahasa.

Untuk memahami apa itu bahasa yang bias jender, mari kita terlebih dahulu mendefinisikan jender. Banyak orang yang salah kaprah mengartikan jender sama dengan jenis kelamin padahal kedua hal tersebut merupakan hal yang berbeda sama sekali. Pengertian jender diuraikan secara jelas oleh David Graddol dan Joan Swann dalam Gender Voice :

“Kata jender juga bisa menimbulkan kesalahpahaman, terutama jika digunakan dalam kaitannya dengan bahasa. Jender digunakan sebagai istilah teknis dalam kaitannya dengan istilah-istilah teknis dan kaitannya dengan kategori-kategori gramatikal kata-kata dalam bahasa tertentu. Di tempat lain, jender lebih banyak digunakan dalam pengertian sehari-hari untuk menyebut pembedaan sosial antara maskulin dan feminine. Dalam pengertian ini, jender dapat dibedakan dari jenis kelamin, yang terkait dengn pembagian biologis dan secara umum pembedaan biner antara laki-laki dan perempuan.

Kata-kata pembuka dalam buku historis Simone de Beauvoir The Second Sex , menangkap esensi karakteristik jender : One is not born a woman, rather becomes (Seseorang tidak dilahirkan, tetapi menjadi, seorang perempuan). Jender merupakan piranti yang lebih dikonstruksikan secara sosial daripada bersifat biologis – orang tidak dilahirkan dengan jender, tetapi mempelajari perilaku dan sikap yang sesuai dengan jenis kelamin mereka.

Jender lebih merupakan sebuah atribut psikologis. Jender melibatkan seksualitas seseorang, yang memiliki dimensi pribadi sekaligus dimensi publik, dan harus senantiasa dipahami dalam konteks hubungan sosial yang khusus dan terus menerus berubah antara laki-laki dan perempuan”. ( David Graddol & Joan Swann, 1989, hal. 11-13)

Jadi, jender lebih menyerupai sifat dan perilaku sementara jenis kelamin adalah ciri-ciri biologis. Sifat-sifat seperti “lembut” yang diidentikkan dengan perempuan dan “tegas” yang diidentikkan dengan laki-laki merupakan jender karena kedua sifat tersebut masih bisa dipertukarkan. Artinya, perempuan bisa saja tegas dan tidak ada yang salah dengan lelaki lembut. Adapun bias, menurut KBBI adalah simpangan. Jadi, bahasa yang bias jender adalah bahasa yang menyimpang, atau bahasa yang “berat sebelah”, dengan kata lain tidak adil.

Bagaimana contoh bahasa yang bias jender itu? Mari kita simak contoh kasus berikut yang dialami langsung oleh penulis. Suatu hari, saat sedang mengantri makan di kantin kampus, seorang teman lelaki yang mengantri di depan penulis mengambil makan dalam waktu yang agak lama hingga antrian menjadi tersendat. Lalu, seorang teman perempuan yang mengantri di belakang penulis menyeletuk dengan nada bercanda “Ahhh, lama banget sih lo, kayak cewek!”

Nah, bahasa yang tampak sederhana tersebut merupakan salah satu contoh bahasa yang bias jender. Kalimat “Ahhh, lama banget sih lo, kayak cewek!” menjadi bias jender karena kesan yang ditimbulkan berat sebelah dan cenderung berkesan negatif terhadap perempuan. Ironisnya, kata-kata tersebut justru dilontarkan dari mulut perempuan itu sendiri, Artinya, ketika melontarkan kalimat tersebut sudah ada streoreotype buruk tentang perempuan – yakni lambat, lama—dalam kepala komunikator tersebut padahal sifat “lambat” bisa saja dimiliki kaum lelaki.

Kalimat sederhana seperti yang diuraikan sebelumnya hanya merupakan contoh kecil dari sekian banyak bahasa bias jender dalam kehidupan kita. Kalimat seperti “biasa..cewek”, atau “ah, segitu aja pukulan lo? Cewek gue aja bisa mukul lebih keras” merupakan bahasa bias jender yang sudah dianggap lumrah sehingga dibiarkan begitu saja. Padahal, bahasa bias jender bisa dikategorikan sebagai kekerasan linguistik terhadap perempuan. Hii, seram yaaa.

Pertanyaannya, mengapa sampai ada bahasa bias jender? Coates menjawabnya dengan singkat dan cemerlang :

“Perbedaan linguistik semata-mata merupakan suatu cerminan perbedaan sosial, dan selama masyarakat memandang laki-laki dan perempuan berbeda – dan tidak setara – maka perbedaan dalam bahasa laki-laki dan perempuan akan terus ada” ( Coates, 1986, hal Vi)

Nah, Kawan, setelah mengetahui apa itu bahasa bias jender, masihkah berniat menggunakannya? Kalau kalian termasuk orang yang menghargai sesama, mencintai kesetaraan, maka belajarlah menggunakan bahasa yang baik dan benar – bahasa yang tidak bias jender. Jadi, belajar berbahasa , yuk!

Daftar rujukan:

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

Graddol, David., Swann, Joan. (2003). Gender Voice. Pasuruan: Penerbit Pedati.

De Beauvoir, Simone. (2003). The Second Sex. Surabaya: Putaka Promethea

foto:http://www.gender.no/News/7789/likestillingstegn.jpg


Deandra Syarizka

210110080225