Tampilkan postingan dengan label dunia maya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dunia maya. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Juni 2010

Lebih Waspada dengan DNS Nawala

Gembar-gembor kasus Ariel Peterpan bersama beberapa artis perempuan Indonesia yang beberapa waktu belakangan seperti tidak pernah selesai untuk dibahas oleh media massa, tentu saja menarik perhatian. Sangat memprihatinkan, karena bukan hanya orang dewasa yang tertarik akan pemberitaan ini, melainkan juga anak-anak yang sebenarnya masih belum paham akan kasus ini. Konon, banyak di antara anak-anak ini yang pergi ke warung internet (warnet) untuk mencari "Video Ariel". Untungnya, masih ada pihak-pihak yang prihatin akan curiosity anak-anak yang tidak pada tempatnya ini. Salah satunya adalah Asosiasi Warung Internet Indonesia (Awari).

Lindungi buah hati Anda dari dampak negatif internet.

Pada 17 November 2009, Awari mengeluarkan DNS Nawala. Domain name system (DNS) Nawala merupakan layanan gratis yang bebas digunakan pengguna internet yang membutuhkan saringan konten negatif dan berbau porno. Selain itu, DNS Nawala juga akan memblokir situs yang mengandung konten berbahaya
. Menurut Ketua Awari, Irwin Day, DNS Nawala dibuat berdasarkan keprihatinan dan kepentingan para pengusaha warnet agar akses ke situs situs-negatif (pornografi, judi, phising, malware) dapat ditekan. "Para pengusaha warnet sering dirugikan oleh mereka yang mengakses ke situs-situs tersebut. Dirugikan dari sisi citra warnet, kerugian dari besarnya bandwidth yang digunakan oleh pengakses situs tersebut dan kerugian dari software-software "gelap" yang sering ikut terdownload dari situs situs tersebut," ujar Irwin kepada Ixora Tri Devi dari Portal Perempuan.


Sejak diluncurkan, Irwin mengaku animo masyarakat atas DNS Nawala cukup bagus. "Sejak diresmikan hingga hari ini, traffict yang masuk ke DNS Nawala trendnya tidak pernah turun. Sampai hari ini paling tidak DNS Nawala sudah melakukan 9,5 juta kali blocking situs negatif," tutur Irwin. Fakta ini sedikit melegakan, mengingat Indonesia termasuk negara dengan tingkat penyalahgunaan internet yang tinggi.

"Masih banyak persoalan lain yang lebih penting dari sekedar video eksebionis si Ariel," Irwin Day, Ketua Awari.

Mengenai kasus video mirip Ariel Peterpan, Irwin menanggapi, "Kalau mau ke warnet untuk mendownload video Ariel, sebagian akan kecewa karena: A. Waktu download yang lama, B. Sudah di block oleh pengelola warnet. C. tidak diperbolehkan memutar video tersebut di warnet,".

Meskipun demikian, sebagian warnet tetap bisa memberikan akses ke video tersebut. Menurut Irwin, hal ini semata-mata karena warnet tersebut tidak tahu cara melakukan blocking. Irwin juga mengatakan penyesalannya terhadap media yang terus mengangkat kasus video Ariel ini, "Kasus ariel ini adalah kasus tidak penting yang menjadi heboh karena media memberitakannya secara sensasional dan tidak proporsional. Masih banyak persoalan lain yang lebih penting dari sekedar video eksebionis si Ariel," tangkas Irwin.

Ixora Tri Devi
210110080284

PS:
Bagi Anda yang berminat untuk memasang DNS Nawala, bisa langsung mengakses http://irwinday.web.id/2010/04/29/buku-panduan-penggunaan-dns-nawala/ untuk mengakses buku panduan.

Daftar Rujukan :
http://www.nawala.org/faq.php

http://tekno.kompas.com/read/xml/2009/11/17/12090091/saring.konten.porno.telkom.luncurkan.dns.nawala

Sumber Gambar :
http://yukbelajarinternet.wordpress.com/category/internet-sehat/



Sabtu, 12 Juni 2010

Berkicau Jangan Kacau



Pasti tidak sedikit di antara Anda yang sering kali melakukan aktivitas seperti ilustrasi di atas. Padahal, beberapa tahun yang lalu, ngobrol sambil melakukan aktivitas di kamar mandi (apalagi buang air besar), adalah hal yang sangat tabu, bahkan di beberapa daerah hal ini tidak diperbolehkan. Walaupun bukan "ngobrol" dalam arti sebenarnya, dengan gadget yang saat ini tersedia, kita dapat bertukar pesan dengan siapa saja, di mana saja dengan sangat cepat, tergantung pada kekuatan sinyal. Apa yang menyebabkan hal ini?

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah Twitter! Twitter adalah sebuah
microblog yang saat ini sangat digandrungi oleh warga planet bumi. Sama halnya dengan blog yang digunakan sebagai katarsis bagi pemiliknya, Twitter pun berguna sebagai media penyaluran energi. Sifat Twitter yang unik, yakni terbatasnya karakter (hanya 140 karakter) membuat 'berkicau' menjadi lebih sering dilakukan di masa kini, daripada menulis di blog yang terkesan harus selalu dengan kalimat yang panjang.


Menurut Pakar Psikologi Perkembangan, Fredrick Darmawan Purba, kepada Ixora Tri Devi dari Portal Perempuan, kecenderungan untuk menjadi teradiksi oleh Twitter sangat besar, mengingat penyaluran energi yang bisa dilakukan dalam genggaman. Begitu seseorang ingin meluapkan energinya, ia hanya perlu menggunakan gadget yang sudah ada di tangannya, "Tentu saja ini lebih cepat, daripada harus menemukan seorang teman yang bersedia untuk mendengarkan," ujar Fredrick.



Luna Maya sempat terjerat kasus karena 'kicauannya'.

Anda tentu masih ingat dengan kasus Luna Maya, ketika ia memaki pekerja infotainment di Twitternya, yang akhirnya mengundang kontroversi, bahkan perdebatan sengit mengenai status kewartawanan para pekerja infotainment. Ada juga kasus Marsha, pelajar SMA Swasta di kawasan elit Jakarta. Pada 17 Februari, ia menjelek-jelekkan sekolah negeri di Twitternya, spontan ia menjadi trending topic (aplikasi Twitter yang menunjukkan kata apa yang paling banyak di'kicaukan' oleh para pengguna Twitter di seluruh dunia). Makian dan hinaan tidak berhenti dialamatkan pada pelajar berusia 16 tahun ini, yang akhirnya berujung pada dikeluarkannya ia dari sekolah.

Marsha, siswa SMA yang sempat menggegerkan dunia pertwitteran.

Meskipun terdapat kasus-kasus seperti ini, tahukah Anda, bahwa alasan kedua mengapa mencurahkan isi hati di Twitter masih tetap digemari adalah karena pengguna merasakan adanya keamanan untuk curhat di Twitter.
"Walaupun ada kasus yang berkaitan dengan curhat di Twitter, namun kan tidak banyak. Jadi cenderung dinilai lebih aman," kata Fredrick.




Alasan terakhir, dan juga merupakan alasan yang paling kuat mengapa Twitter menjadi sangat digemari, adalah sifatnya yang dapat dikonfirmasi oleh banyak orang. Bayangkan, pendapat Anda disetujui oleh 'follower' Anda di Twitter, baik itu di 'reply' apalagi bila di 'retweet'. Tentu Anda akan semakin banyak 'berkicau', karena menganggap diri Anda dikonfirmasi, bukan hanya oleh satu-dua orang, tetapi sesuai dengan jumlah 'follower' Anda. Dengan metode komunikasi yang tradisional, Anda mungkin akan mendapatkan konfirmasi dengan lawan bicara Anda, satu-dua orang, atau mungkin lebih secara berkelompok. Namun, dengan Twitter, Anda seakan-akan memiliki media massa sendiri.

Penguatan oleh 'massa' Anda di dalam Twitter tentu akan membuat Anda 'berkicau' lagi dan lagi. Mungkin pengguna Twitter yang mendapatkan penguatan tersebut bercita-cita dapat menjadi trending topic layaknya Justin Bieber, oleh karena itu mereka terus menerus 'berkicau'.

Bagaimana pun, yang terpenting adalah jangan sampai kegemaran Anda berkicau berlanjut menjadi penyakit.
Pembicaraan masalah yang terus menerus, khususnya tentang kekecewaan cinta dinilai justru tidak membantu dan malah membuat mereka terobsesi. Itulah hasil studi yang dibesut oleh Dr Joanne Davila dan Liza Star, pakar psikologi dari Stony Brook University, Amerika Serikat. "SMS, instant messaging, dan jejaring sosial membuat kaum muda lebih mudah cemas, yang akhirnya bisa berujung pada depresi," papar Dr Davila (http://www.detikinet.com/read/2009/02/02/081021/1077807/398/curhat-di-facebook-bisa-bikin-depresi). Narasumber kita, Psikolog Fredrick, membenarkan pendapat ini.

Meluapkan perasaan one-on-one dengan mendalam lebih baik untuk menghindari depresi.

Menurut Fredrick, 'curhat' di dunia maya, apalagi di Twitter, hanya akan menimbulkan masalah baru, karena keterbatasan ruang yang tersedia.Hal ini berkaitan dengan pengalaman Fredrick sendiri yang memiliki akun formspring (situs yang berbentuk tanya-jawab) yang dapat juga diakses lewat Twitter. Sekalipun 'curhat' dengan pakar psikologi, namun tetap saja, solusi yang diberikan tidak akan semaksimal apabila setiap aktor komunikasi bertatapan muka secara langsung. "Keterangan yang diterima oleh yang di'curhati' hanya sedikit-sedikit, tentu saja ini akan menimbulkan permasalahan, karena permasalahannya tidak dapat diketahui secara lebih mendalam. Solusi yang diberikan pun kemungkinan tidak tepat pada sasaran. Inilah yang menjadikan depresi,".


Untuk menghindari depresi semacam ini, rasanya lebih baik bila kita kembali mendekatkan yang dekat, tidak menjauhkan yang dekat, seperti yang selama ini terjadi apabila kita sibuk dengan dunia maya. Mari curahkan isi hati kita pada mereka yang kita percaya, just like the old time! ;-)


Ixora Tri Devi
210110080284


sumber foto :

http://ot-indo.blogspot.com/2010/02/kontroversi-twitter-marsha-saphira.html

http://kathbiskie.blogspot.com/2009_04_01_archive.html

http://gudangartis.com/gosip/page/3/

Senin, 19 April 2010

Dunia Virtual 2020


Terinspirasi dari game virtual Second Life serta film yang dibintangi Bruce Willis berjudul Surrogates (2009), kami mengkhayalkan sepuluh tahun yang akan datang akan tercipta sebuah dunia virtual dalam kehidupan manusia sehari-harinya. Untuk mengakses dunia virtual ini, digunakan sebuah kacamata yang saat ini sudah banyak digunakan. Kacamata dalam khayalan kami, kira-kira berbentuk seperti ini :


Berbeda dengan game Secondlife, di mana setiap orang dapat membuat avatar sesuka mereka, dalam dunia virtual ini, kami membayangkan seseorang harus menggunakan identitas sebenarnya apabila ingin terlibat, seperti layakanya film Surrogates. Namun, apabila di dalam film Surogates ini avatar yang tercipta adalah robot versi diri sendiri mereka yang dipercantik, dalam Dunia Virtual 2020 khayalan kami, avatar yang tercipta sama persis dengan pemilik avatar. Agar dapat mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai Dunia Virtual 2020 khayalan kami, berikut ini cuplikan film Surogates (2009) :

Selain itu, apabila di film Surogates avatar hidup di dunia nyata, kami mengkhayalkan avatar Dunia Virtual 2020 hidup di dunia maya, yang seolah-olah nyata. Dalam Dunia Virtual 2020 bayangan kami, manusia dapat menyimpan memori mereka di dalam Dunia Virtual tersebut. Misalnya, seseorang menyimpan memori tentang konser The Beatles, setiap orang yang memiliki kacamata Dunia Virtual 2020, dapat mengakses memori tersebut, bahkan dapat seolah-olah menonton konser The Beatles tersebut bersama teman-teman yang lain di Dunia Virtual 2020.

Dalam khayalan kami, Dunia Virtual 2020 ini seperti halnya Yahoo Messanger, di mana setiap orang dapat memilih ingin bertemu dengan perorangan (seperti chatting), perkelompok, (seperti conference), atau secara massal (seperti halnya apabila kita masuk ke dalam Chat Room Yahoo Messager yang dapat diakses oleh seluruh manusia di dunia). Namun, dalam Dunia Virtual 2020, setting tempat interaksi ini berlangsung sama dengan setting dunia yang sebenarnya. Untuk menertibkan Dunia Virtual 2020 ini, akan dibentuk semacam petugas ketertiban dunia virtual pernegara, oleh karena itu, untuk memudahkan petugas ketertiban ini, maka orang-orang yang ingin mengakses Dunia Virtual 2020, harus menggunakan identitas sebenarnya.

Dalam Dunia Virtual ini, interaksi fisik dapat terjadi. Artinya, dalam Dunia Virtual ini para avatar dapat bersalaman, dan melakukan interaksi fisik lainnya selayaknya yang terjadi dalam dunia nyata. Selain itu, kita dapat mentransfer barang dari dunia nyata ke dalam Dunia Virtual. Jadi, nanti petugas ketertiban Dunia Virtual akan melakukan proses decode partikel barang nyata ke dalam partikel digital Dunia Virtual. Hal ini biasa dinamakan teleportasi, seperti yang biasa kita lihat dalam film2. Namun, proses teleportasi ini tidak berlaku bagi manusia sebab dikhawatirkan akan merusak kromosom DNA manusia.

Namun, kemajuan teknologi Dunia Virtual ini juga memiliki kekurangan untuk membuat manusia cenderung mengurangi makna komunikasi langsung/ tatap muka. Seperti yang kita lihat dalam fenomena sehari-hari melalui internet yang tersedia di handphone membuat manusia menjadi lebih asik dengan handphone-nya ketimbang berbicara dengan orang yang duduk di sebelahnya. Begitupun halnya dengan Dunia Virtual yang mempunyai kecenderungan membuat manusia lebih asik dengan Dunia Virtual ketimbang dunia nyata. Semoga saja tidak karena ini baru khayalan kami semata.

daftar rujukan:

dibuat oleh:
Deandra Syarizka (210110080225)
Ixora Tri Devi (210110080284)