Tampilkan postingan dengan label teater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teater. Tampilkan semua postingan

Minggu, 13 Juni 2010

Boni Avibus, Seniman Cilik Menggemaskan

Boni Avibus

Sekilas, tidak ada yang berbeda dari penampilan dan tingkah polah Sigrid Minerva Boni Avibus atau yang akrab disapa Boni ini. Bocah berusia tujuh tahun ini memiliki keceriaan yang sama dengan anak kecil lain pada umumnya. Namun, siapa sangka bocah yang mengenakan kacamata ini ternyata punya segudang aktivitas. Mulai dari teater, baca puisi, monolog, hingga aktivitas yang tidak lazim dilakukan anak seusianya, yakni orasi. Pernah bergabung di Teater Laskar Panggung pada tahun 2008, dan kini aktif di Teater Anak Negeri, Boni telah melakukan pementasan sebanyak lebih dari lima puluh dan beberapa di antaranya adalah kolaborasi bersama dengan seniman besar seperti Putu Wijaya dan Slamet Rahardjo. Tidak salah jika julukan ‘seniman cilik’ disematkan padanya. Berikut adalah hasil wawancara Deandra Syarizka dari Portal Perempuan dengan Sigrid Minerva Boni Avibus:

Mulai pentas sejak kapan?

Sejak umur 5 tahun

Bagaimana awalnya?

Sejak ikut teater diajak Ayah.

Ketika pertama kali diajak langsung berani tampil?

Nggak aku latihan-latihan dulu, semangat. Terus ditanya mau latihan teater ? terus aku bilang mau. Dari situ muali pentas-pentas.

Kenapa suka baca puisi?

Teater itu kan banyak, jadi harus segala macem bisa. Suka puisi awalnya juga dari teater.

Udah pentas di mana aja?

Udah banyak, kemarin terakhir aku ikut Indonesian Got Talent di Indosiar.

Lolos?

Lolos tapi baru babak 1, babak 2-nya belum tahu

Baca puisi?

Iya, baca puisi

Boni di Indonesian Got Talent

Pementasan mana yang paling berkesan?

Semuanya lah. Semuanya kan udah sering jadi seneng

Siapa yang ngajarin tampil selain ayah?

Kang Yusef Mudiyana dari Laskar Panggung.

Iya, awalnya aku ikut itu. Terus sekarang ikut Teater Anak Negeri, teater yang isinya anak-anak semua.

Kalau belajar orasi, dari mana?

Orasi juga dari teater. Teater itu kan banyak, ada tari, nyanyi, monolog, teater, orasi. Terus aku diajak orasi. Orasi yang ingin disampaikan orang. Kalau kemarin mah orasinya Obama

Kenapa suka orasi?

Ya gara-gara aku latihan teater sama orang teater yang udah dewasa, cuma aku doang yang paling kecil. Dari situ diajak, jadi suka deh.

Mengerti isi orasinya?

Iya, kan akunya harus ngerti dulu kalo baca itu.

Woow. Tentang orasinya Obama, belajar orasinya bagaimana?

Ngapalin. Naskahnya diprint terus diapalin.

Sekolah terganggu gak?

Paling kecil aku dapet 8. Berkisar 8-9an lah

Kok pinter banget sih?

Hihihihi

Katanya Boni masuk sekolahnya kemudaan?

Iya aku muter-muter gak ada yang mau nerima akhirnya di SDN Banjarsari keterima

Memang waktu itu umurnya berapa?

4 tahun

Gak TK dulu?

Gak, TK-nya di rumah

Kalau teman Boni ada yang suka pentas gini juga?

Ada sih yang suka baca puisi

Ada yang suka baca orasi?

Nggak sih, jarang-jarang

Kalau orasi bikinan sendiri udah pernah?

Belum

Kalo orasi, bikinan siapa aja selain orasinya Obama yang pernah dibawakan Boni?

Belum, baru Obama aja.

Mau sampai kapan pentas?

Aku belum tahu

Yang mengatur jadwal pentas siapa?

Disesuaikan dengan yang ngadain acaranya terus aku ngomongin ke Ayah dulu

Pernah kolaborasi sama siapa saja?

Sama Putu Wijaya pernah, terus aku orasi tahun 2008 sama Slamet Rahardjo. Banyak lagi sih, sama walikota Bandung, gubernur.

Penghargaannya udah banyak?

Iya tapi pentas bukan lomba

Di blog Boni ada foto Boni lagi dapat penghargaan sebagai “The Best Female Actor in Supporting Role”. Bisa diceritakan?

Itu awalnya dari teater, judul filmnya Behind The Curtain. Yang bikin Teater Topeng namanya Om Bil. Aku tadinya belum kenal, terus kenalan, diajak main film deh. Acaranya lomba di Maranatha, Bandung International School.

Pertanyaan terakhir, Boni cita-citanya jadi apa?

Aku sih mau jadi presenter sama presiden.



Profil “Boni Avibus” Update Mei 2010

Sigrid Minerva Boni Avibus

Perempuan

Tinggi: 114 cm

Berat: 40 ponds

Lahir: Bandung 14 September 2002

Sekolah:SD Banjarsari, kelas 3b SD 3

Alamat Surat:

Gedung Indonesia Menggugat u.p. Daya Cipta Budaya/Boni Avibus

Jl. Perintis Kemerdekaan no. 5 Bandung 40117

Email: boniavibus@gmail.com

http://id-id.facebook.com/people/Boni-Avibus/1004721160

http://boniavibus.ning.com/

http://boniavibus.blogspot.com/

Performance Kesenian:

  1. Teater: Ignasius 03/Agustus/08 Gedung Arhanud Cimahi; karya/Stdr: Yusef Muldiyana / Laskar Panggung
  2. Teater: Indungnasial 15/Agustus/08 Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung. karya/stdr: Yusef Muldiyana /Laskar Panggung
  3. Teater: Fragment Indungnasial 27/Agustus/08 Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung.; karya/stdr: Yusef Muldiyana / Laskar Panggung
  4. Improvisasi: Launching Bamboo Festival 09/Oktober/2008 Dago Plaza Bandung
  5. Puisi / Teatrikal (Laskar Panggung): Bamboo Festival 12/Oktober/2008; SABUGA Bandung
  6. Teater: Woiseks 14-15/Nov/08 Taman Budaya Dago Bandung (tiga peran: anak orang miskin, kucing, orang-orang) karya:Georg Buchner, Stdr: Erry Anwar Produksi: Teater Bel
  7. Monolog: Fragmen Indungnasial 21/Nov/2008 karya/stdr: Yusef Muldiyana Gedung Indonesia Menggugat (GIM)
  8. Teater: Fragment Indungnasial 27/Nov/2008 Gedung Teater Univ. Maranatha Bandung (teater topeng); karya/stdr: Yusef Muldiyana
  9. Nara Sumber Golempang (Bandung TV): “Mapay laratan "Laskar Panggung" 27/Nov/08
  10. Puisi: (Cinta) “4 tahun tsunami Aceh” 26/Des/2008 Newseum Cafe Jakarta karya: anonim
  11. Tausiyah/Orasi Budaya: HUT FTI (Federasi Teater Indonesia) 27/Des/08 Graha Bakti Budaya - Taman Ismail Marzuki Jakarta; karya/stdr: Yusef Muldiyana
  12. Puisi: (Cinta) Launching Album “Bocah Cilik” Rida 27/Des/08 Newseum Cafe Jakarta karya: anonim
  13. Orasi budaya: Refleksi Kebudayaan Indonesia; Gedung Indonesia Menggugat (GIM); 3/Jan/09 karya/stdr. Yusef Muldiyana
  14. Prolog + Puisi: Doa untuk Palestina Gedung Indonesia Menggugat (GIM) 10/Jan/09; karya: Yusef Muldiyana/Anonim
  15. Orasi Konvensi Capres Independent; Gedung Indonesia Menggugat (GIM) 24/Jan/09; karya Yusef Muldiyana.
  16. Puisi (cinta) pada peresmian Majelis Sastra Bandung; Gedung Indonesia Menggugat (GIM) 25/Jan/09; karya anonim.
  17. Puisi Melahirkan kembali Indonesia Raya; Seminar Nasional Peran dan Posisi Guru dalam Badan Hukum Pendidikan; Salman ITB 26/jan/09; karya Prof. DR Winarno Surachmad.
  18. Orasi Calon Presiden Independen 2009 - Dewan Integritas Bangsa; Gedung Indonesia Menggugat (GIM) 27/Jan/09; karya Yusef Muldiyana.
  19. Teater: Woiseks 5/Maret/09 Gd. Sanusi Unpad (2 peran: kucing, orang-orang) karya:Georg Buchner, Stdr: Erry Anwar; Produksi: Teater Bel
  20. Orasi Calon Presiden Independen 2009 - Dewan Integritas Bangsa; Seggara Bay City Ancol Jakarta 7/Maret/09; karya Semesta.
  21. Teater: Goyang Membata Lautan Membatu. GAP U.K Maranatha (2 peran: anak & narator) 4-5 April 2009; Karya/stdr. Yusef Muldiyana; Produksi: Teater Topeng
  22. Teatrikal: grand launching BlackIdclothing.com; 31 Mei 2009, e-plex Paris Van Java Bandung
  23. Movie: Behind the Curtain. berperan sebagai Helena Grechen, Directed/script by Bilhuda; 8 Juni 2009; Produksi: Multimediorama Picture; mendapat penghargaan sebagai ‘Best Female Actor in Supporting Role’ di BMA 2009 pada 8 Juni 2009.
  24. Puisi ‘Melahirkan kembali Indonesia Raya’; Rapat Kerja Nasional FGII 2009- Guru Menggugat; Gedung Indonesia Menggugat (GIM) 30/Juni/09; karya Prof. DR Winarno Surachmad.
  25. Puisi ‘Melahirkan kembali Indonesia Raya’; Seminar Pendidikan Upaya Peningkatan Enterpreuner dan Lokakarya Dewan Guru SMAN 9 Bandung; Gedung Indonesia Menggugat (GIM) 13/Juli/09; karya Prof. DR Winarno Surachmad.
  26. Puisi ‘Cinta’; Malam Puisi Cinta – Voice Of Bandung-Majelis Sastra Bandung, Gedung Indonesia Menggugat (GIM) 18/Juli/09; karya anonim
  27. Puisi ‘Melahirkan kembali Indonesia Raya’; Training Metode Pengajaran bagi Tenaga Pendidik Kepolisian Semarang - Pushan-UIII, Hotel Santika Bandung 24/Juli/09; karya Prof. DR Winarno Surachmad.
  28. Teater: Cinderella for Malin bersama SMA Taruna Bhakti / MPK; Taman Budaya Jabar 16/08/2009 jam 15.30; Karya/stdr. Yusef Muldiyana
  29. Teater: Rekontruksi karya lukis Dudum Sunjaya: Detik-detik Proklamasi; Gedung Indonesia Menggugat (GIM) 16/08/2009 jam 20.30; karya/stdr. Yusef Muldiyana
  30. Bintang tamu Wilujeung Enjing IMTV (Bandung): memperingati HUT RI 64, 17/08/2009
  31. Teater: Rekontruksi karya lukis Dudum Sunjaya: Detik-detik Proklamasi; Gedung Indonesia Menggugat (GIM) 17/08/2009 jam 11.30; karya/stdr. Yusef Muldiyana
  32. Teater: dari Wak menuju Tu; Puisi: Pengibar Bendera (karya: Semesta); Peresmian VOB; Gedung Indonesia Menggugat (GIM) 19/08/2009 jam 16.30 & 20.30; karya/stdr. Yusef Muldiyana
  33. Puisi: Akulah Pengibar Bendera & Cinta (Semesta/Anonim); 17 Puisi untuk Negriku; Potluck Coffe & Library Bandung/Sky FM 29/08/2009
  34. Puisi: Sajak Tahun Baru 1990 (WS. Rendra); mengenang 40 hari WS Rendra bersama seniman dan rakyat Jawa Barat; Ged. Museum Sribaduga Bandung 13 September 2009.
  35. Syuting Sinetron 6 episode “Cerita di Bumi Pasundan” – prod. TVRI stdr. Barno untuk tayang di TVRI Nasional ; 21-29 Oktober 2009. (tayang mulai 7 Des 09 jam 17.30)
  36. Deklarator Hari Kebudayaan Nusantara; Gedung Indonesia Menggugat 7 November 2009.
  37. Monolog Burung Merak bersama Putu Wijaya & Teater Mandiri; STSI - Dewi Asri Bandung 8 November 2009.
  38. Teater (Gabungan seniman se Jawa Barat- Bandung Mengenang Rendra): Kisah Perjuangan Suku Naga stdr: Yusef Muldiyana, karya: WS Rendra; dua peran: mesin & rakyat; Saung Angklung Udjo 11-15 Nov.09
  39. Puisi: Melahirkan kembali Indonesia Raya (Prof. DR Winarno Surachmad); Upacara peringatan hari Guru – SDN Banjarsari Bandung 25 November 2009.
  40. Puisi: Melahirkan kembali Indonesia Raya (Prof. DR Winarno Surachmad);Syukuran Kemenangan Gugatan Ujian Nasional - Gedung Indonesia Menggugat Bandung 25 November 2009.
  41. Puisi: Mahakarya (semesta) launching Ceramic talk – republik Entertainment, e-plex, Paris Van Java Bandung 25 November 2009.
  42. Puisi: Akulah Pengibar Bendera (semesta), Seminar Lingkungan Hidup - Tisna Sanjaya – Gedung Indonesia Menggugat 29 November 2009.
  43. Film: Bukan Hanya Cerita – Central Profil – Sangtama Production; script/stdr. Desy Yusani - Bandung 12-16 Des09
  44. Puisi: Sajak Tahun Baru 1990, karya. WS Rendra, Reuni Akbar SMPN 12 Bandung & Puisi: Cinta, karya Semesta, reuni angkatan 87 SMPN 12 / Waroeng Steak Setiabudhi- Bandung 19 Des 09
  45. Puisi: Akulah Pengibar Bendera, karya Semesta; Refleksi Sosok Roehana Koedoes: Ibu Pers & Pendidikan Indonesia – Newseum Cafe – Jakarta 20 Des 09
  46. Puisi: Sajak Tahun Baru 1990, karya. WS Rendra; Braga Festival, Ceremoni Pembukaan bersama Walikota Bandung & Kadisparbud. 27 Desember 2009
  47. Puisi-puisi bebas sebagai pengisi acara Audisi Peran Triamanda Cinema di Metro Mall - Bandung, 9 Januari 2010
  48. Puisi: Pengibar Bendera (semesta), Wanadri: Dari Bandung Untuk Indonesia – Wanadri, GIM Bandung 17 Januari 2010.
  49. Orasi: pemimpin demokratis (semesta); Forum Diskusi Nusantara – GIM, Bandung 25 Febuari 2010.
  50. Puisi: Bencana..Bejana (semesta), Lelang Lukisan Penggalangan Dana untuk Bencana Alam- GIM, Bandung 5 Maret 2010
  51. Puisi: Palagan Pahlawan & Cinta (semesta), acara silahturahmi peserta MUKERNAS PMI 2010 bersama Walikota Bandung. Pendopo Kota Bandung 29 Maret 2010.
  52. Puisi: Cinta (anonim), Konser Mukti-Mukti 2010: Mencari Matahari; Culture Centre of France (CCF) - Bandung 16 April 2010.
  53. Puisi: Kejahatan Perang (Diro Aritonang), Asia Africa Childern Festival – New Majestic – Bandung 23 April 2010.
  54. Orasi Sinematographi: Launching Film terbaru Produksi Tri-am Cinema; Hotel Grand Pasundan Bandung 1 Mei 2010.

Lomba-lomba:

  1. Peserta PORKOT 2008 – Atlit senam lantai
  2. Best Female Actor in Supporting Role’ di BMA 2009
  3. Puisi ramadhan Gerakan Pramuka tk. ranting, Juara 1, tk. Cabang juara 2
  4. Lomba Puisi Sunda tk. SD se Bandung Raya, di SD Paulus, juara 1

Pentas bersama kelompok Teater:

  1. Laskar Panggung (awal 2008 – pertengahan 2009)
  2. Teater Bel (Pertengahan 2008)
  3. Teater Mandiri (akhir 2009)
  4. Teater Anak Negeri (Pertengahan 2009 - sekarang)


Daftar Rujukan:


Deandra Syarizka
210110080225

Perempuan Dalam "Lysistrata"

pementasan Lysistrata


Lysistrata merupakan naskah teater kuno yang ditulis filsuf terkenal Aristophanes. Naskah ini bercerita tentang perlawanan perempuan terhadap perang yang dilakukan lelaki. Dalam naskah ini diceritakan bagaimana para perempuan melawan kekerasan dengan kelembutan, bagaimana mereka memprotes suami-suami yang tidak mengacuhkan mereka selama masa perang dengan melakukan pemogokan asmara (menolak berhubungan seks).

Naskah yang kental nuansa komedi ini kini dipentaskan ke sekian kalinya oleh Studiklub Teater Bandung (STB) pada Kamis (3/6) dalam rangka ujian akhir Acting Course XXI. STB yang merupakan klub teater tertua di Indonesia rutin menyelenggarakan Acting Course (AC) , sebuah kursus akting yang terbuka bagi umum yang mempunyai ujian akhir berupa pementasan. Pada AC ke XXI ini untuk kedua kalinya STB memilih naskah Lysistrata karya Aristophanes untuk dipentaskan.

Sutradara pementasan Lysistrata, IGN Arya Sanjaya mengatakan bahwa dirinya memutuskan untuk mengadaptasi naskah tersebut ke dalam nuansa punk. “ Naskah ini kan bercerita tentang perlawanan, pembebasan. Iya, jadi kita ambil spirit pembebasan yang ada dalam punk”, ujarnya ketika ditanya. Pementasan yang dilakoni oleh sepuluh orang tersebut menggunakan kostum punk dan setting jalanan.


para pemeran Lysistrata


Adapun karakter perempuan dalam naskah Lysistrata beragam. Tokoh utama, Lysistrata, digambarkan berwatak tegas dan berwibawa. Lain halnya dengan tokoh Calisa yang diperankan dengan centil oleh Dora Bunga. Beberapa dari aktor beranggapan bahwa naskah ini sarat dengan nuansa feminisme sebab ceritanya menggambarkan perlawanan yang dilakukan perempuan.

Namun, hal itu dibantah oleh Yogi Imamuddin, sutradara Gelanggang Seni Sastra Teater Film Unpad, yang saat itu juga menonton pementasan Lysistrata, “Naskah ini memang mengandung nuansa emansipasi tetapi tidak bisa dikatakan feminisme sebab masih terdapat stereotype yang buruk tentang perempuan”, ujarnya.

Memang, beberapa dialog yang terdapat dalam naskah Lysistrata masih menggunakan bahasa yang bias jender, yang tentu saja mengandung stereotype yang buruk tentang perempuan. Salah satunya terdapat dalam dialog yang diucapkan Lysistrata di adegan awal

: “Ah, dasar perempuan! Bila diundang ke pesta terus semrintil dengan riuhnya! Bila sedang bergunjing berceloteh dengan hebohnya! Tapi saat diajak mengatasi kegawatan ke mana mereka? Tak ada batang hidungnya kelihatan!”
Bahasa bias jender lainnya ditemukan dalam dialog antara Lysistrata dengan Calisa:

Lysistrata” Ini persoalan negara, dan hanya bisa diselamatkan oleh perempuan!

Calisa: “Oleh perempuan? Wah, kalau begitu sudah tipis harapan negara kita?

Dan masih terdapat beberapa dialog lainnya yang sarat bias jender. Begitulah, naskah kuno ini meskipun sudah mengandung nuansa emansipasi di dalamnya tetap masih kental dengan stereotype yang buruk tentang perempuan. Bahwa citra perempuan dalam naskah ini masih saja dipandang dari kacamata laki-laki. Seperti yang dikatakan oleh Simone de Beauvoir dalam The Second Sex "bahwa bahkan untuk mendefinisikan keeksistensian perempuan itu sendiri, masih saja dikaitkan dari keeksistensian laki-laki. Perempuan adalah The Other dari laki-laki". Dan nuansa komedi yang membalut naskah ini malah menyamarkan kesan patriarkinya.

Deandra Syarizka
210110080225

Sabtu, 12 Juni 2010

Pementasan Nyai Ontosoroh : Megah dan Hampa

Tokoh yang menurut saya merupakan tokoh utama di Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, bukanlah Minke, melainkan Nyai Ontosoroh. Kharisma yang ia miliki, sebagai wanita inlander cerdas, bergengsi, dan yang selalu berjuang hingga akhir tentu saja tidak hanya memukau saya. Buktinya, pada 2007 Faiza Mardzoeki mengangkat sosok Nyai Ontosoroh, alias Sanikem, ke atas pentas theater. Yang didapuk untuk menjadi sutradara adalah Wawan Sofwan, dan yang memerankan Nyai Ontosoroh pada saat itu adalah Happy Salma.

Tiga tahun sejak Faiza mementaskan Nyai Ontosoroh untuk pertama kali, tepatnya pada tanggal 7 Mei 2010, saya menyaksikan sendiri pementasan Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh yang bertempat di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Pementasan yang saya saksikan pada hari itu adalah versi yang diperpendek dan hanya dimainkan oleh empat orang. Kali ini, yang menjadi Nyai Ontosoroh bukan lagi Happy Salma, melainkan Sita Nursanti, anggota trio Rida-Sita-Dewi (RSD), yang sebelumnya juga ikut mementaskan drama musikal Nyai Dasima.

Scene ketika Annelis meninggalkan mamanya seharusnya menimbulkan 'kehampaan' dalam hati, bukan kehampaan harfiah.

Kharisma Nyai Ontosoroh yang 'megah' dapat dibawakan dengan sangat baik oleh Sita. Dari awal kemunculannya, ketika ia menenteng 'koper kusam keramat', pun sudah sangat meyakinkan. Staminanya tetap terjaga dari awal hingga akhir pertunjukan yang berdurasi kurang lebih dua jam. Awalnya, saya sempat berpikir bahwa ini akan menjadi pertunjukan monolog, sampai akhirnya Willem Bever (Herman Mellema) muncul ke atas pentas, dan mulai beradu akting dengan Sita. Selain Willem Bever, juga ada Bagus Setiawan (Minke), dan Agni Melati (Annelis).

Seperti halnya film, visualisasi yang diangkat dari novel, pasti akan sangat susah untuk memuaskan penikmatnya. Begitu pula dengan pementasan Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh ini. Ya, karakter Nyai Ontosoroh memang sudah sangat pas, namun, ketiga lawan main Sita membuat saya berpikir, pementasan ini mungkin akan lebih baik bila dijadikan monolog. Belum lagi kekacau-balauan teknis yang terjadi malam itu, bersangkutan dengan masalah pencahayaan. Walaupun kesalahan teknis ini menambah salut saya kepada Sita yang tetap dapat berakting maksimal di atas kekurangan ini.

Faiza yang sepertinya tidak ingin kehilangan momen dari setiap halaman di Bumi Manusia pun memasukkan semua bagian dari novel. Keputusan memasukkan semua bagian ke dalam pementasan ini mungkin dimaksudkan untuk memberi detail agar yang tidak membaca Bumi Manusia dapat mengerti cerita, namun sayang sekali, hal ini justru menimbulkan kebosanan. Teman yang bersama saya pada malam itu berkali-kali menanyakan "Ini masih lama?,".
Teman-teman dan saya berfoto bersama Sita yang sepertinya masih 'kumpul nyawa' seusai pementasan.

Namun, keputusan untuk memasukkan setiap detail dari Bumi Manusia juga memiliki nilai positif. Terutama pada bagian-bagian yang mengkritik kebiadaban kaum imperial. Pada scene pengadilan, menuju akhir pertunjukan, ketika Annelis akan dibawa ke Belanda, Nyai Ontosoroh berujar, "Tuan-tuan adalah Eropa yang pemeras!,". Bagian favorit saya adalah ketika Nyai Ontosoroh dan Sanikem kecil menari bersama Herman. Saat itu gerakan Nyai dan Sanikem sama persis, sangat kompak!


Meskipun demikian, tetap saja, saya tidak dapat mengalami kembali 'kekosongan' dan 'kehampaan-yang-membuat-menangis' yang saya rasakan ketika mencapai bagian akhir dari Bumi Manusia, yakni ketika Annelis harus pergi dari rumah Nyai. Padahal saya sangat menunggu-nunggu bagian akhir ini. Ya, saya memang merasakan kekosongan dan kehampaan, namun itu dalam arti sebenarnya, dan sama sekali tidak membuat saya ingin meneteskan air mata. Oleh karena itu, secara keseluruhan pementasan, saya mengagumi kehebatan vokal Sita dan pemain lain, serta kejagoan mereka dalam menghapal naskah, itu saja.




Ixora Tri Devi
210110080284

Daftar Rujukan :
Tempo Edisi 17-23 Mei, halaman 56

Foto oleh Tiara Syahra Syabani