Tampilkan postingan dengan label pentas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pentas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 12 Juni 2010

Do You Believe in Music?

Venue In Music We Trust

Cause they do! Hanya dengan kepercayaan yang tinggi terhadap Musik, Komunitas Musik Fikom (KMF), salah satu unit kegiatan mahasiswa di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, berani membuat event musik berbudget puluhan juta rupiah di sebuah tempat cuci mobil di kecamatan dekat Tanjung Sari-Sumedang, Jawa Barat- yang bernama Jatinangor.



Vokalis The Trees And The Wild dalam In Music We Trust II :
The Bright Night

Ternyata Musik (pakai huruf besar) memang tidak mengecewakan KMF. Event yang mereka gelar bertajuk In Music We Trust, berhasil memukau ribuan penduduk Jatinangor, yang kebanyakan adalah mahasiswa, saat pertama kali digelar, yakni 24 Maret 2010. Saat itu, KMF mendatangkan band asal ibu kota Efek Rumah Kaca, Gugun and Blues Shelter band blues yang telah melanglangbuana sampai ke Inggris, dan Coffee Reggae Stone.

Musik juga kembali menepati janjinya, beberapa hari yang lalu, tepatnya pada 9 Juni 2010. Bertepatan dengan minggu UAS yang sedang 'melanda' kebanyakan mahasiswa Jatinangor, KMF kembali menggelar In Music We Trust (volume 2). Sedikit mengalami sanksi akan jumlah penonton yang akan datang, berkaitan dengan minggu UAS tadi tidak menghalangi niat KMF untuk tetap mengadakan event IMWT lagi. 'Iman' KMF yang kuat terhadap Musik pun kembali berbuah kesuksesan

IMWT ke-2 kembali berhasil membawa ribuan orang ke venue, yang masih tetap di tempat cuci mobil. Kali ini, KMF mendatangkan 'dewa' reggae Indonesia, Tony Q Rastafara, The Paps yang juga band reggae, dan The Trees And The Wild band potensial yang memiliki kekayaan khas dalam bermusik.


Mengenai keberhasilan KMF, Reinhard Giofan, ketua KMF periode tahun ini tidak besar kepala, "Tentu saja orang mau datang untuk melihat performance band terkenal. Yang menjadi tantangan untuk KMF adalah bagaimana agar orang mau mengapresiasi karya dari band-band potensial milik kita sendiri, yang masih meniti karier," ujarnya.

Untuk musisi lokal dari kampus sendiri, KMF memiliki proyek Fikompilasick

Selain mendatangkan musisi-musisi lokal di In Music We Trust, salah satu upaya KMF untuk membuat mereka didengar adalah merilis album Fikompilasick, yang berisikan musisi-musisi asal Fikom sendiri.
Well, hope you guys always have faith in Music. And may Music always be with US!

Ixora Tri Devi
210110080284

Foto oleh : Rian Ario Prabowo
Ardhika Putra
Komunitas Musik Fikom

Pementasan Nyai Ontosoroh : Megah dan Hampa

Tokoh yang menurut saya merupakan tokoh utama di Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, bukanlah Minke, melainkan Nyai Ontosoroh. Kharisma yang ia miliki, sebagai wanita inlander cerdas, bergengsi, dan yang selalu berjuang hingga akhir tentu saja tidak hanya memukau saya. Buktinya, pada 2007 Faiza Mardzoeki mengangkat sosok Nyai Ontosoroh, alias Sanikem, ke atas pentas theater. Yang didapuk untuk menjadi sutradara adalah Wawan Sofwan, dan yang memerankan Nyai Ontosoroh pada saat itu adalah Happy Salma.

Tiga tahun sejak Faiza mementaskan Nyai Ontosoroh untuk pertama kali, tepatnya pada tanggal 7 Mei 2010, saya menyaksikan sendiri pementasan Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh yang bertempat di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Pementasan yang saya saksikan pada hari itu adalah versi yang diperpendek dan hanya dimainkan oleh empat orang. Kali ini, yang menjadi Nyai Ontosoroh bukan lagi Happy Salma, melainkan Sita Nursanti, anggota trio Rida-Sita-Dewi (RSD), yang sebelumnya juga ikut mementaskan drama musikal Nyai Dasima.

Scene ketika Annelis meninggalkan mamanya seharusnya menimbulkan 'kehampaan' dalam hati, bukan kehampaan harfiah.

Kharisma Nyai Ontosoroh yang 'megah' dapat dibawakan dengan sangat baik oleh Sita. Dari awal kemunculannya, ketika ia menenteng 'koper kusam keramat', pun sudah sangat meyakinkan. Staminanya tetap terjaga dari awal hingga akhir pertunjukan yang berdurasi kurang lebih dua jam. Awalnya, saya sempat berpikir bahwa ini akan menjadi pertunjukan monolog, sampai akhirnya Willem Bever (Herman Mellema) muncul ke atas pentas, dan mulai beradu akting dengan Sita. Selain Willem Bever, juga ada Bagus Setiawan (Minke), dan Agni Melati (Annelis).

Seperti halnya film, visualisasi yang diangkat dari novel, pasti akan sangat susah untuk memuaskan penikmatnya. Begitu pula dengan pementasan Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh ini. Ya, karakter Nyai Ontosoroh memang sudah sangat pas, namun, ketiga lawan main Sita membuat saya berpikir, pementasan ini mungkin akan lebih baik bila dijadikan monolog. Belum lagi kekacau-balauan teknis yang terjadi malam itu, bersangkutan dengan masalah pencahayaan. Walaupun kesalahan teknis ini menambah salut saya kepada Sita yang tetap dapat berakting maksimal di atas kekurangan ini.

Faiza yang sepertinya tidak ingin kehilangan momen dari setiap halaman di Bumi Manusia pun memasukkan semua bagian dari novel. Keputusan memasukkan semua bagian ke dalam pementasan ini mungkin dimaksudkan untuk memberi detail agar yang tidak membaca Bumi Manusia dapat mengerti cerita, namun sayang sekali, hal ini justru menimbulkan kebosanan. Teman yang bersama saya pada malam itu berkali-kali menanyakan "Ini masih lama?,".
Teman-teman dan saya berfoto bersama Sita yang sepertinya masih 'kumpul nyawa' seusai pementasan.

Namun, keputusan untuk memasukkan setiap detail dari Bumi Manusia juga memiliki nilai positif. Terutama pada bagian-bagian yang mengkritik kebiadaban kaum imperial. Pada scene pengadilan, menuju akhir pertunjukan, ketika Annelis akan dibawa ke Belanda, Nyai Ontosoroh berujar, "Tuan-tuan adalah Eropa yang pemeras!,". Bagian favorit saya adalah ketika Nyai Ontosoroh dan Sanikem kecil menari bersama Herman. Saat itu gerakan Nyai dan Sanikem sama persis, sangat kompak!


Meskipun demikian, tetap saja, saya tidak dapat mengalami kembali 'kekosongan' dan 'kehampaan-yang-membuat-menangis' yang saya rasakan ketika mencapai bagian akhir dari Bumi Manusia, yakni ketika Annelis harus pergi dari rumah Nyai. Padahal saya sangat menunggu-nunggu bagian akhir ini. Ya, saya memang merasakan kekosongan dan kehampaan, namun itu dalam arti sebenarnya, dan sama sekali tidak membuat saya ingin meneteskan air mata. Oleh karena itu, secara keseluruhan pementasan, saya mengagumi kehebatan vokal Sita dan pemain lain, serta kejagoan mereka dalam menghapal naskah, itu saja.




Ixora Tri Devi
210110080284

Daftar Rujukan :
Tempo Edisi 17-23 Mei, halaman 56

Foto oleh Tiara Syahra Syabani