Minggu, 13 Juni 2010

Bukan Hanya Kuantitas Tetapi Juga Kualitas

saya dengan Mbak Rieke :)

Keterlibatan perempuan dalam aktivitas politik yang belum setara dengan laki-laki, juga kebijakan-kebijakan pemerintah yang belum bisa dikatakan berperspektif gender dipandang sebagai sesuatu yang serius oleh Rieke Diah Pitaloka. Bahwa peningkatan persentase jumlah perempuan dalam parlemen yang meningkat dibandingkan dengan tahun lalu baru bisa dikatakan sebagai kemajuan jika perempuan-perempuan yang terpilih itu memang benar berkualitas.Persoalannya adalah, apakah perempuan-perempuan yang kini menjabat sebagai anggota DPR memang benar berkualitas?

Sebagai seorang wakil rakyat sekaligus juga aktivis perempuan, Rieke Diah Pitaloka sangat vokal dalam menyuarakan pemikiran-pemikirannya mengenai politik yang berperspektif gender. Ditemui di Gedung DPR RI di Senayan, perempuan yang juga dikenal lewat peran “Oneng” dalam sebuah sinetron komedi ini terlihat cantik dengan mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hitam, celana panjang bahan yang juga berwarna hitam, lengkap dengan sepatu hak-nya. Mempunyai wajah yang lembut tidak lantas membuat perempuan yang baru dikaruniai seorang putera ini ragu untuk mengeluarkan pernyataan yang lugas dan tegas. Dengan sesekali mengembangkan senyum, perempuan ini menjawab setiap pertanyaan dengan sabar dan cemerlang. Gaya bicaranya kemudian menjadi “berapi-api” ketika menjawab pertanyaan yang berhubungan dengan HAM (Hak Asasi Manusia) dan kesetaraan gender, menunjukkan bahwa kedua hal itulah yang menjadi perhatian utamanya sebagai wakil rakyat.

Di sela-sela kesibukan rapatnya, Rieke Diah Pitaloka menyempatkan diri untuk melayani permintaan wawancara Deandra Syarizka, kontributor Portal Perempuan. Berikut adalah cuplikan wawancara antara Deandra Syarizka dengan Rieke Diah Pitaloka yang dilakukan pada saat istirahat rapat gabungan anggota DPR RI, di Gedung Nusantara V:

Bagaimana pandangan Anda mengenai gerakan perempuan Indonesia saat ini?

Di satu sisi ada kemajuan. Kalo kita bandingin dengan gerakan wanita awal tahun 30 saya merasa justru mereka pada saat itu dengan tekanan kolonialisme yang luar biasa tapi bisa menghasilkan sebuah gerakan yang cukup lumayan.Kalau buat saya bagaimana mereka memulainya dengan kesadaran individu, kesadaran individu nanti jadi kesadaran politik , kesadaran politik nanti jadi kesadaran suatu gerakan. Dengan isu-isunya yang juga sampai saat ini belum goal-goal juga. Jadi pada saat itu mereka udah bilang anti poligami, anti perdagangan perempuan. Yang kayak KOWANI (Konres Wanita Indonesia) pada saat itu sudah menyuarakan penghapusan perdagangan perempuan dan anak. Kalo Dewi Sartika tentang persamaan laki-laki dan perempuan,. Ya di bebebarapa sisi sih udah ada kemajuan tapi di sisi lain saya melihat tetep aja yang namanya patriarkinya itu sendiri belum luntur.

Menurut Anda perempuan itu perlu berpolitik tidak?

Kalau buat saya bukan perempuan perlu berpolitik atau tidak. Manusia itu makhluk politik, jadi kalau dia tidak berpolitik, dipertanyakan dirinya sebagai manusia. Kan disebutnya zoon politicon, makhluk politik. Tidak bisa dipisahkan antara manusia dengan politik lepas dari jenis kelaminnya. Jadi, kalo dibilang ngga berpolitik, semua orang sebenarnya sedang berpolitik , cuma masalahnya mereka sadar atau tidak sadar. Lebih baik kita sadar kan, lebih baik kita menjadi pelaku politik daripada kita menjadi korban politik.

Anda sendiri kenapa memutuskan untuk menjadi pelaku politik?

Karena saya udah dulu sama di gerakan mahasiswa kayak gitu, terus aktif di gerakan luar parlemen. Dalam proses itu saya tahu bahwa kalo kita ada di dalam, kita lebih bisa langsung bersentuhan dengan kebijakan yang keluar dan kita butuh partai untuk itu. Tapi partai di sini adalah sebagai alat perjuangan, bukan berarti kita maksudnya bener-bener mengabdi pada partai, engga. Partai itu adalah alat perjuangan. Ideologi partai itu yang kita coba implementasikan

Berbicara mengenai UU No 10 Tahun 2008 yang membahas tentang persentase minimal 30% perempuan dalam bakal calon legislatif. Bagaimana Anda sebagai aktivis perempuan menanggapi hal ini?

Ya itu kan namanya affirmative action. Affirmative Action itu adalah sebuah tindakan yang diterapkan untuk pihak yang “termarjinalkan” posisinya selama ini, sampai batasnya itu adalah ketika sampai pada posisi setara. Jadi tentu saja ketika kesetaraan itu sudah terjadi maka affirmative action itu sudah tidak diperlukan lagi.. Persoalannya adalah kemudian affirmative pertama, affirmative action itu kemudian lewat kuota 30% parlemen itu jangan hanya dilihat dari segi kuantitas tapi juga kualitas karena balik lagi, ketika ini persoalannya jenis kelamin laki-laki dan perempuan, banyak juga lho, perempuan yang tidak memiliki perspektif gender.

Jadi, perubahan kuantitatif yang dalam hal ini undang-undang itu belum cukup untuk mengubah posisi perempuan dalam aspek strategis dan jangka panjang?

Ya sama sekali belum cukup. Apalagi kalau kita lihat dari argumen-argumen yang ada di kawan-kawan komisi aja, kadang-kadang lebih berat persoalan politiknya. Kalau buat saya, oke ini lembaga politik, tapi begitu ini persoalan kemanusiaan, sebenarnya kita harus menanggalkan jaket partai kita. Semua harus berjuang untuk persoalan itu, kalau memang kita mau serius. Kita kan menyatakan sebagai wakil rakyat, bukan wakil pemerintah, begitu. Cuman ya berapa persen sih orang yang punya pemikiran seperti itu? Kalau banyak tentu DPR kita tidak seperti yang disorot publik selama ini kan.

Kalau Anda sendiri selama merasakan kursi legislatif ini, ada tidak perbedaan perlakuan antara anggota DPR laki-laki dan perempuan? Apakah suara perempuan-perempuan anggota legislatif ini benar-benar didengar?

Ya kalau menurut saya kita harus menjadikan suara kita didengar karena itu ketika perempuan punya kesempatan untuk masuk ke wilayah publik, wilayah politik yang itu tidak bisa didapatkan oleh perempuan lain, perempuan itu, perempuan “terpilih” itu harus bekerja secara serius, jangan main-main, dan harus membuktikan bahwa sebagai perEmpuan kita dipilh karena kita layak, bukan karena kedekatan kita dengan pihak tertentu, atau karena kita keluarga dari siapa.. Jangan kita terkungkung sendiri oleh kerangkeng patriarki yang kadang-kadang perempuan sendiri yang mengurung diri dengan itu.

Jadi menurut Anda, kehadiran perempuan dalam parlemen ini bisa memberikan warna baru bagi pemerintahan?

Ya tentu saja bisa, tapi perempuan yang seperti apa, balik-lagi ke situ. Sebagai perempuan, apakah dia punya perspektif gender atau tidak? Jangan-jangan hanya wujudnya saja yang perempuan tapi berpolitik dengan kaca mata laki-laki. Sama aja bohong. Ha..ha..

Ada tidak keterkaitan antara semagat feminisme dengan partisipasi perempuan dalam politik?

Pasti ada. Jadi kalo misalnya untuk seorang perempuan, feminis itu, kekuasaan siapapun, siapapun yang berkuasa, misalnya kalau sekarang oposisi koalisi, mau oposisi kek, mau koalisi kek, kalau kita mengaku sebagai seorang feminis, kita harus kritis terhadap kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada yang lemah, kebijakan-kebijakan yang tidak berpihak pada masyarakat, kebijakan-kebijakan yang memiskinkan publik,. Kita harus melawan itu dan tentu saja berpihak kepada korban. . Seorang feminis seharusnya tidak takut bersuara karena dia telah membebaskan dirinya dari keterkungkungan yang paling privat, yaitu patriarki, yang kita peroleh sejak katakanlah balita. Kan paling susah membebaskan dari patriarki itu.

Memangnya menurut Anda bagaimana caranya membebaskan perempuan dari kungkungan patriarki itu?

Jangan mau tunduk terhadap kekuasaan di luar diri kita yang melemahkan kita, terutama itu terwujud dalam rasa takut, takut terhadap A. Jalani saja. Mana kita tahu apa yang kita lakukan itu benar atau salah kalau kita tidak menjalaninya. Yang penting apa yang kita lakukan itu punya prinsip-prinsip tertentu. Tapi kalau kita tidak pernah melepaskan diri dari ketakutan itu, itu kan bias gender, melemahkan, kita tidak pernah jadi jiwa yang merdeka. Makanya saya kalau di setiap pertemuan selalu mengutip apa yang ibu saya katakan “laki-laki dan perempuan itu sbenarnya sama, punya hak yang sama. Kamu juga berhak punya cita-cita dan harus berani mewujudkan cita-citamu. Jangan hanya bermimpi jadi istri dokter, kamu yang harus jadi dokter. Jangan hanya punya cita-cita jadi istri seorang menteri, kamu yang harus jadi menteri. Jangan hanya punya cita-cita jadi istri presiden, kamu yang harus jadi presiden. Meskipun kamu perempuan”, begitu.

Mungkinkah dengan keterlibatan perempuan di parlemen yang tahun ini sedikit meningkat dibanding tahun lalu mampu membuat kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah menjadi lebih sensitif jender?

Saya juga tidak bisa mengatakan bahwa kawan-kawan perempuan yang di parlemen in mampu atau tidak. Tapi kalau di awal-awal ini saya lihat, takutnya ini hanya sekedar peningkatan kuantitas saja, bukan kualitas. Kita kan berharap bahwa dengan masuknya perempuan di parlemen itu bagaimana penyelesaian-penyelesaian konflik itu lebih berbahasa perempuan.

Jadi kalau kuantitas perempuan yang meningkat di DPR tidak berpengaruh selama kualitasnya rendah,bagaimana caranya agar kualitas perempuan-perempuan di DPR ini bagus?

Ya butuh dukungan dari luar untuk terus mendorong supaya perempuan-perempuan dan, buat saya sih tidak hanya perempuan, siapa pun, terbuka pikirannya bahwa kita bekerja untuk publik, bukan untuk pihak tertentu. Cara yang kedua adalah, yang seharusnya kita persiapkan saya sih bersama teman-teman yang lain sudah mulai pemetaan dan menjaring teman-teman yang betul, berkualitas, yang memiliki perspektif gender, yang sensitif dengan perjuangan masyarakat untuk 2014 masuk ke parlemen karena kalau engga ya tidak akan ada perubahan di DPR. Makanya perempuan-perempuan yang berkualitas untuk melakukan perubahan kita dorong bersama, apa pun partainya. Dan untuk menciptakan politik berperspektif gender itu harus kita mulai dari sekarang, makanya persiapannya jangan mendadak.


Deandra Syarizka
210110080225

Sabtu, 12 Juni 2010

Do You Believe in Music?

Venue In Music We Trust

Cause they do! Hanya dengan kepercayaan yang tinggi terhadap Musik, Komunitas Musik Fikom (KMF), salah satu unit kegiatan mahasiswa di Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad, berani membuat event musik berbudget puluhan juta rupiah di sebuah tempat cuci mobil di kecamatan dekat Tanjung Sari-Sumedang, Jawa Barat- yang bernama Jatinangor.



Vokalis The Trees And The Wild dalam In Music We Trust II :
The Bright Night

Ternyata Musik (pakai huruf besar) memang tidak mengecewakan KMF. Event yang mereka gelar bertajuk In Music We Trust, berhasil memukau ribuan penduduk Jatinangor, yang kebanyakan adalah mahasiswa, saat pertama kali digelar, yakni 24 Maret 2010. Saat itu, KMF mendatangkan band asal ibu kota Efek Rumah Kaca, Gugun and Blues Shelter band blues yang telah melanglangbuana sampai ke Inggris, dan Coffee Reggae Stone.

Musik juga kembali menepati janjinya, beberapa hari yang lalu, tepatnya pada 9 Juni 2010. Bertepatan dengan minggu UAS yang sedang 'melanda' kebanyakan mahasiswa Jatinangor, KMF kembali menggelar In Music We Trust (volume 2). Sedikit mengalami sanksi akan jumlah penonton yang akan datang, berkaitan dengan minggu UAS tadi tidak menghalangi niat KMF untuk tetap mengadakan event IMWT lagi. 'Iman' KMF yang kuat terhadap Musik pun kembali berbuah kesuksesan

IMWT ke-2 kembali berhasil membawa ribuan orang ke venue, yang masih tetap di tempat cuci mobil. Kali ini, KMF mendatangkan 'dewa' reggae Indonesia, Tony Q Rastafara, The Paps yang juga band reggae, dan The Trees And The Wild band potensial yang memiliki kekayaan khas dalam bermusik.


Mengenai keberhasilan KMF, Reinhard Giofan, ketua KMF periode tahun ini tidak besar kepala, "Tentu saja orang mau datang untuk melihat performance band terkenal. Yang menjadi tantangan untuk KMF adalah bagaimana agar orang mau mengapresiasi karya dari band-band potensial milik kita sendiri, yang masih meniti karier," ujarnya.

Untuk musisi lokal dari kampus sendiri, KMF memiliki proyek Fikompilasick

Selain mendatangkan musisi-musisi lokal di In Music We Trust, salah satu upaya KMF untuk membuat mereka didengar adalah merilis album Fikompilasick, yang berisikan musisi-musisi asal Fikom sendiri.
Well, hope you guys always have faith in Music. And may Music always be with US!

Ixora Tri Devi
210110080284

Foto oleh : Rian Ario Prabowo
Ardhika Putra
Komunitas Musik Fikom

Belajar Berbahasa, Yuk!


Bahasa merupakan alat komunikasi sehari-hari. Ia merupakan alat untuk menyampaikan pesan secara verbal dari komunikator kepada komunikan. Menurut KBBI, bahasa adalah sistem lambang bunyi yg arbitrer, yg digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Setiap hari semua orang berbahasa. Jadi, untuk apa lagi belajar berbahasa jika setiap saat kita menggunakannya?

Justru, Kawan, karena bahasa hampir digunakan setiap saat maka kita harus belajar menggunakan bahasa yang baik dan benar. Sayangnya, tidak setiap orang memiliki kesadaran untuk menggunakan bahasa yang baik dan benar tersebut sehingga kebanyakan dari mereka menggunakan bahasa yang asal-asalan. Parahnya lagi, bahasa yang asal-asalan itu berdampak tidak adil bagi suatu pihak, dalam kasus ini adalah perempuan.

Perempuan? Ada apa dengan perempuan? Coba perhatikan dengan seksama , dalam keseharian kebanyakan dari kita menggunakan bahasa yang tidak adil terhadap perempuan – kalau istilah kerennya—bahasa yang bias jender. Dan sedihnya, bahasa yang bias jender itu tidak hanya digunakan oleh kaum lelaki saja, bahkan kaum perempuan itu sendiri menggunakan bahasa yang bias jender tanpa sadar. Hal itu disebabkan bahasa tersebut sudah sering digunakan dalam keseharian sehingga menjadikannya lumrah, wajar, dan seakan-akan benar. Dalam buku The Second Sex karangan Simone de Beauvoir dikatakan “perempuan tidak menyadari ketidakberdayaannya tetapi menerimanya sebagai suatu kewajaran”. Pun dalam soal berbahasa.

Untuk memahami apa itu bahasa yang bias jender, mari kita terlebih dahulu mendefinisikan jender. Banyak orang yang salah kaprah mengartikan jender sama dengan jenis kelamin padahal kedua hal tersebut merupakan hal yang berbeda sama sekali. Pengertian jender diuraikan secara jelas oleh David Graddol dan Joan Swann dalam Gender Voice :

“Kata jender juga bisa menimbulkan kesalahpahaman, terutama jika digunakan dalam kaitannya dengan bahasa. Jender digunakan sebagai istilah teknis dalam kaitannya dengan istilah-istilah teknis dan kaitannya dengan kategori-kategori gramatikal kata-kata dalam bahasa tertentu. Di tempat lain, jender lebih banyak digunakan dalam pengertian sehari-hari untuk menyebut pembedaan sosial antara maskulin dan feminine. Dalam pengertian ini, jender dapat dibedakan dari jenis kelamin, yang terkait dengn pembagian biologis dan secara umum pembedaan biner antara laki-laki dan perempuan.

Kata-kata pembuka dalam buku historis Simone de Beauvoir The Second Sex , menangkap esensi karakteristik jender : One is not born a woman, rather becomes (Seseorang tidak dilahirkan, tetapi menjadi, seorang perempuan). Jender merupakan piranti yang lebih dikonstruksikan secara sosial daripada bersifat biologis – orang tidak dilahirkan dengan jender, tetapi mempelajari perilaku dan sikap yang sesuai dengan jenis kelamin mereka.

Jender lebih merupakan sebuah atribut psikologis. Jender melibatkan seksualitas seseorang, yang memiliki dimensi pribadi sekaligus dimensi publik, dan harus senantiasa dipahami dalam konteks hubungan sosial yang khusus dan terus menerus berubah antara laki-laki dan perempuan”. ( David Graddol & Joan Swann, 1989, hal. 11-13)

Jadi, jender lebih menyerupai sifat dan perilaku sementara jenis kelamin adalah ciri-ciri biologis. Sifat-sifat seperti “lembut” yang diidentikkan dengan perempuan dan “tegas” yang diidentikkan dengan laki-laki merupakan jender karena kedua sifat tersebut masih bisa dipertukarkan. Artinya, perempuan bisa saja tegas dan tidak ada yang salah dengan lelaki lembut. Adapun bias, menurut KBBI adalah simpangan. Jadi, bahasa yang bias jender adalah bahasa yang menyimpang, atau bahasa yang “berat sebelah”, dengan kata lain tidak adil.

Bagaimana contoh bahasa yang bias jender itu? Mari kita simak contoh kasus berikut yang dialami langsung oleh penulis. Suatu hari, saat sedang mengantri makan di kantin kampus, seorang teman lelaki yang mengantri di depan penulis mengambil makan dalam waktu yang agak lama hingga antrian menjadi tersendat. Lalu, seorang teman perempuan yang mengantri di belakang penulis menyeletuk dengan nada bercanda “Ahhh, lama banget sih lo, kayak cewek!

Nah, bahasa yang tampak sederhana tersebut merupakan salah satu contoh bahasa yang bias jender. Kalimat “Ahhh, lama banget sih lo, kayak cewek!” menjadi bias jender karena kesan yang ditimbulkan berat sebelah dan cenderung berkesan negatif terhadap perempuan. Ironisnya, kata-kata tersebut justru dilontarkan dari mulut perempuan itu sendiri, Artinya, ketika melontarkan kalimat tersebut sudah ada streoreotype buruk tentang perempuan – yakni lambat, lama—dalam kepala komunikator tersebut padahal sifat “lambat” bisa saja dimiliki kaum lelaki.

Kalimat sederhana seperti yang diuraikan sebelumnya hanya merupakan contoh kecil dari sekian banyak bahasa bias jender dalam kehidupan kita. Kalimat seperti “biasa..cewek”, atau “ah, segitu aja pukulan lo? Cewek gue aja bisa mukul lebih keras” merupakan bahasa bias jender yang sudah dianggap lumrah sehingga dibiarkan begitu saja. Padahal, bahasa bias jender bisa dikategorikan sebagai kekerasan linguistik terhadap perempuan. Hii, seram yaaa.

Pertanyaannya, mengapa sampai ada bahasa bias jender? Coates menjawabnya dengan singkat dan cemerlang :

“Perbedaan linguistik semata-mata merupakan suatu cerminan perbedaan sosial, dan selama masyarakat memandang laki-laki dan perempuan berbeda – dan tidak setara – maka perbedaan dalam bahasa laki-laki dan perempuan akan terus ada” ( Coates, 1986, hal Vi)

Nah, Kawan, setelah mengetahui apa itu bahasa bias jender, masihkah berniat menggunakannya? Kalau kalian termasuk orang yang menghargai sesama, mencintai kesetaraan, maka belajarlah menggunakan bahasa yang baik dan benar – bahasa yang tidak bias jender. Jadi, belajar berbahasa , yuk!

Daftar rujukan:

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php

Graddol, David., Swann, Joan. (2003). Gender Voice. Pasuruan: Penerbit Pedati.

De Beauvoir, Simone. (2003). The Second Sex. Surabaya: Putaka Promethea

foto:http://www.gender.no/News/7789/likestillingstegn.jpg


Deandra Syarizka

210110080225

Pementasan Nyai Ontosoroh : Megah dan Hampa

Tokoh yang menurut saya merupakan tokoh utama di Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, bukanlah Minke, melainkan Nyai Ontosoroh. Kharisma yang ia miliki, sebagai wanita inlander cerdas, bergengsi, dan yang selalu berjuang hingga akhir tentu saja tidak hanya memukau saya. Buktinya, pada 2007 Faiza Mardzoeki mengangkat sosok Nyai Ontosoroh, alias Sanikem, ke atas pentas theater. Yang didapuk untuk menjadi sutradara adalah Wawan Sofwan, dan yang memerankan Nyai Ontosoroh pada saat itu adalah Happy Salma.

Tiga tahun sejak Faiza mementaskan Nyai Ontosoroh untuk pertama kali, tepatnya pada tanggal 7 Mei 2010, saya menyaksikan sendiri pementasan Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh yang bertempat di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Pementasan yang saya saksikan pada hari itu adalah versi yang diperpendek dan hanya dimainkan oleh empat orang. Kali ini, yang menjadi Nyai Ontosoroh bukan lagi Happy Salma, melainkan Sita Nursanti, anggota trio Rida-Sita-Dewi (RSD), yang sebelumnya juga ikut mementaskan drama musikal Nyai Dasima.

Scene ketika Annelis meninggalkan mamanya seharusnya menimbulkan 'kehampaan' dalam hati, bukan kehampaan harfiah.

Kharisma Nyai Ontosoroh yang 'megah' dapat dibawakan dengan sangat baik oleh Sita. Dari awal kemunculannya, ketika ia menenteng 'koper kusam keramat', pun sudah sangat meyakinkan. Staminanya tetap terjaga dari awal hingga akhir pertunjukan yang berdurasi kurang lebih dua jam. Awalnya, saya sempat berpikir bahwa ini akan menjadi pertunjukan monolog, sampai akhirnya Willem Bever (Herman Mellema) muncul ke atas pentas, dan mulai beradu akting dengan Sita. Selain Willem Bever, juga ada Bagus Setiawan (Minke), dan Agni Melati (Annelis).

Seperti halnya film, visualisasi yang diangkat dari novel, pasti akan sangat susah untuk memuaskan penikmatnya. Begitu pula dengan pementasan Mereka Memanggilku Nyai Ontosoroh ini. Ya, karakter Nyai Ontosoroh memang sudah sangat pas, namun, ketiga lawan main Sita membuat saya berpikir, pementasan ini mungkin akan lebih baik bila dijadikan monolog. Belum lagi kekacau-balauan teknis yang terjadi malam itu, bersangkutan dengan masalah pencahayaan. Walaupun kesalahan teknis ini menambah salut saya kepada Sita yang tetap dapat berakting maksimal di atas kekurangan ini.

Faiza yang sepertinya tidak ingin kehilangan momen dari setiap halaman di Bumi Manusia pun memasukkan semua bagian dari novel. Keputusan memasukkan semua bagian ke dalam pementasan ini mungkin dimaksudkan untuk memberi detail agar yang tidak membaca Bumi Manusia dapat mengerti cerita, namun sayang sekali, hal ini justru menimbulkan kebosanan. Teman yang bersama saya pada malam itu berkali-kali menanyakan "Ini masih lama?,".
Teman-teman dan saya berfoto bersama Sita yang sepertinya masih 'kumpul nyawa' seusai pementasan.

Namun, keputusan untuk memasukkan setiap detail dari Bumi Manusia juga memiliki nilai positif. Terutama pada bagian-bagian yang mengkritik kebiadaban kaum imperial. Pada scene pengadilan, menuju akhir pertunjukan, ketika Annelis akan dibawa ke Belanda, Nyai Ontosoroh berujar, "Tuan-tuan adalah Eropa yang pemeras!,". Bagian favorit saya adalah ketika Nyai Ontosoroh dan Sanikem kecil menari bersama Herman. Saat itu gerakan Nyai dan Sanikem sama persis, sangat kompak!


Meskipun demikian, tetap saja, saya tidak dapat mengalami kembali 'kekosongan' dan 'kehampaan-yang-membuat-menangis' yang saya rasakan ketika mencapai bagian akhir dari Bumi Manusia, yakni ketika Annelis harus pergi dari rumah Nyai. Padahal saya sangat menunggu-nunggu bagian akhir ini. Ya, saya memang merasakan kekosongan dan kehampaan, namun itu dalam arti sebenarnya, dan sama sekali tidak membuat saya ingin meneteskan air mata. Oleh karena itu, secara keseluruhan pementasan, saya mengagumi kehebatan vokal Sita dan pemain lain, serta kejagoan mereka dalam menghapal naskah, itu saja.




Ixora Tri Devi
210110080284

Daftar Rujukan :
Tempo Edisi 17-23 Mei, halaman 56

Foto oleh Tiara Syahra Syabani

“Kami Minoritas, Tapi Kami Tidak Bisu”


Gedung Nusantara I, kantor bagi mereka yang disebut sebagai “Anggota Legislatif”, dengan pakaian yang licin, sepatu mengilat, mobil mewah serta supir yang setia menunggu sebagai perlengkapan kantor. Di pundak mereka, harapan dari seluruh warga negara berlabuh. Di antara anggota legislatif tersebut, Andi Timo Pangerang bergelut dan ikut mengabdi. Dia adalah anak dari Andi Pangerang, dokter terkenal di Sulawesi Selatan.
Keinginan Andi Timo, yang akrab dipanggil Puang Bio’, untuk dapat berpartisipasi pada bangsa dan negara sangat besar. Sebelum menjadi anggota legislatif di Senayan, ia mengikuti pemilihan Wakil Walikota Palopo, Sulawesi Selatan. Meskipun tidak berhasil menjadi wakil walikota, kegagalan itu tidak memupuskan hasratnya untuk mengabdi.
Menjadi satu dari seratus wanita yang menjabat di DPR RI, naluri untuk membela kaumnya, kaum hawa, senantiasa membimbingnya untuk menyampaikan aspirasi wanita Indonesia. Bagi Andi Timo, wanita yang menjadi anggota legislatif adalah wanita pilihan, meskipun jumlahnya sedikit, tapi mereka gesit.
Ditemui di kantornya setelah rapat Komisi XI DPR RI dengan Gubernur BI dan Departemen Keuangan, Rabu, 25 November 2009, Andi Timo, yang dijuluki sebagai "Srikandi dari Luwu" dengan bangga mengenakan kain batik. Ia menceritakan berbagai lika-liku pengabdiannya, serta pandangannya mengenai berbagai macam isu aktual kepada Ixora Tri Devi, dari Portal Perempuan. Berikut petikan hasil wawancara.


Siapa yang menginspirasi Anda untuk menjadi seorang politikus? Ayah Anda?
Engga, waktu dia muda, dia aktivis di NU, kemudian di dewan mahasiswa, tapi setelah ia bekerja ia cenderung lebih ke profesinya, dan dia lebih berkomitmen untuk bagaimana memajukan kesehatan kita waktu itu. Sehingga dia juga tidak praktek, dia betul-betul di struktural, di departemen kesehatan. Jadi, dia enggak politik. Darah politiknya dapatnya dari kakek, baik dari ayah maupun dari ibu saya, semuanya politikus.
Kalau dari ibu saya, kakek saya itu pernah jadi anggota MPR seperti yang saya alami, dia juga pernah jadi anggota DPR Sulawasi Selatan, seperti yang saya juga alami periode sebelumnya. Dia itu orang Bugis pertama yang jadi bupati di Jawa, waktu itu dia bupati di Pati, jadi di jamannya dia memang politikus.

Sejak melihat kakek Anda tersebut, Anda ingin terjun ke dunia politik?
Sebenarnya pada waktu itu saya belum tau akan terjun di dunia politik, karena pada waktu masih kecil-kecil, saya itu dibesarkan, sebagian besar, dibesarkan sama kakek, sama-sama dengan saudara yang lain. Bersama-sama dengan Andi Malarangeng. Semua bersama-sama. Ayah-ibu saya tugas di tampat lain. Kami dibesarkan di kakek. Waktu itu sebenarnya cita-cita saya lebih tertarik dengan angka-angka.

Tertariknya dengan angka-angka tapi lajutnya di pertanian, yah?
Pada saat menyelesaikan masa SMA, mau mendaftar ke universitas, keinginan saya untuk masuk ekonomi. Ada keinginan dari ibu saya supaya meneruskan karir mereka. Ayah saya dokter, ibu saya dokter, mereka menginginkan saya juga untuk masuk kedokteran, tapi saya itu punya sifat dari kecil itu takut lihat darah. Penakut banget lihat darah, lihat darah pingsan, lihat darah pingsan. Ibu saya tahu kendala itu. Nah saya bilang, “Mam, saya mau masuk ekonomi”, karena saya suka angka-angka. Ada terebersit sedikit kekecewaan di ibu saya. Mengatakan, aduh nak kau sekolah IPA, jaman dulu ada IPA, IPS, Bahasa, kamu sekolah IPA sebaiknya masuk bidang-bidang eksakta. Saya bilang, “Aduh mam saya di mana, kedokteran saya tidak bisa. Tehnik? Saya juga tidak bisa, saya tidak tau gambar-gambar garis lurus itu kan, saya tidak ngerti”. Akhirnya ada satu bidang, di pertanian. Pertanian itu mengenai tanaman, sawah, padi, tanaman hias. Aku bilang, wow itu lebih menarik dibanding lain-lain yang di eksakta. Akhirnya saya memilih pertanian.
Cita-cita Anda ketika masih kecil?
Pengen jadi suster

Karena lihat ayah-ibu dokter, jadi ingin bantu?
Oh, engga. Aku rasa suster itulah yang pertama nolong orang. Biasanya kan suster dulu periksa-periksa, dokternya nanti belakangan dipanggil. Kayaknya suster itu helpfull banget.

Ketika Anda SMP atau SMA sudah aktif berorganisasi?
Sudah.

Tepatnya sejak kapan?
Sebenarnya ilmu manajemen otodidak itu sudah saya dapat sejak SD. Saya SD kelas 4 saya sudah diserahi tugas tangung jawab untuk menjaga adik-adik saya. Kemudian orang tua saya, karena pegawai negeri, itu pindah-pindah tugas. Jadi, saya sebagai kakak sekaligus ibu daripada adik-adik saya. Dari SD kelas 4 saya sudah harus menjaga adik saya, mengawasinya, mengawasi belajarnya, me-manage uang belanja rumah tangga.
Kemudian ketika beranjak besar, saya sudah mulai aktif terus di organisasi sampai kuliah. Waktu SD pun saya lulus dengan mendapatkan siswa teladan. Dan saya dua kali sebenarnya tamat SD. Karena terlalu cepat. Jadi, saya harus tinggal lagi, dua kali saya mengalami kelas 6, jadi saya punya dua ijazah. Saya pernah lompat-lompat kelas. Waktu kuliah, di awal kuliah saya siswa teladan, di akhir kuliah pun saya mahasiswa teladan. Kita waktu itu diundang ke istana negara. IPK saya, saya sudah lupa yah, tapi tidak jauh-jauh dari 3.8 kalau keseluruhan.

Sebelum jadi anggota DPR RI, Andi jadi anggota DPRD….
Provinsi, itu tahun 2004 sampai 2008, harusnya kan 2004-2009, tapi saya karena pindah partai dari PDK ke Demokrat, jadi saya harus PAW. Akhir 2008 saya PAW, karena saya sudah menjadi Caleg dari partai Demokrat.

Anda masuk ke DPR ini persepsinya bagaimana? Apakah untuk partai, untuk diri sendiri, untuk daerah yang memilih Anda, atau bagaimana?
Tentu yang paling utama masuk DPR RI adalah pengabdian, untuk bangsa dan negara, kalau lebih khusus sekali saya ingin mengabdi pada daerah pemilihan saya. Kalau lebih supra khusus lagi, pada daerah Sulawesi Selatan saya mengabdi, supra khusus lagi, pada daerah pemilihan saya. Dapil 3 Sulawesi Selatan.

Anda aktif di Parpol awalnya di PDK, bersama Andi Alfian Malarangeng?
Iya!
Bisa diceritakan bagaimana mulanya?
Mulanya aktif itu tahun 2002, di Sulawesi Selatan Pak Ryas dan Pak Andi Malarangeng waktu itu ingin memperkenalkan dan membikin kepengurusan di tingkat provinsi Sulawesi Selatan. Dia ke Sulawesi Selatan, kemudian bertemu. Saya bertemu beliau-beliau bersama yang lain. Kemudian saya merasa ini cocok untuk saya, ini partai tengah, tidak di kiri, tidak di kanan, ini partai tengah, partai moderat, dan ketika saya diajak untuk bergabung saya memutuskan untuk bergabung.
Seiring berjalannya waktu, karena partai baru, jadi banyak cari kader. Tidak terasa sudah sampai batas waktu pencalegan. Waktu itu ada iklim kondusif tentang masuknya perempuan di bidang politik, karena waktu itu UU quota 30%, lagi gencar-gencarnya. Jadi, benar-benar mengundang kita perempuan untuk ayo! Masuk! Kayak gimana sih dunia politik ini, dunianya laki-laki, dunia macho, dunia yang keras gitu kan, dunia yang ah, pokokya dunia yang laki-laki sekali. Aku penasaran juga.
Kita di Sulawesi Selatan akrab sekali di antara semua pelaku politik perempuan, perempuan politik. Yah, ada simpul yang mengikatkan kita, tidak melihat warnanya, jaketnya, partainya. Tapi, ada satu simpul, yang kita lihat adalah sisterhood-nya, yang mengikatkan kita, namanya simpul aspirasi perempuan Sulawesi Selatan. Partai mana pun as long you are perempuan, yuk mari kita masuk di situ. Kita jalin rasa persaudaran perempuan dulu, kemudian kita saling mendukung.

Ada undang-undang yang mengatur quota 30% calon legislatif perempuan, ada tidak, anggota legislatif perempuan yang, Anda rasa, cuma memenuhi quota 30% tersebut?
Ini kalau kita bicara 2004, kan banyak partai-partai yang komitmen memasukkan 30% perempuan dalam daftar Calegnya. Namun, kemudian waktu itu kendalanya minat perempuan yang sedikit, minat perempuan pada waktu 2004 itu. Jadi, mereka setengah mati nyari, mana perempuan-perempuannya? Nah, sehingga ada keluarganya dibujuk, istrinya dibujuk. Tapi tidak ada keseriusan dalam menjadi Caleg itu, karena waktu itu, 2004, keterwakilan kita menurut nomor urut kan. Jadi, kalau udah nomor urut 7, 5, kayaknya sudah hopeless, kalau sebagai partai baru, yah. Udah hopeless untuk masuk.
2009 lebih baik, dalam arti, pertama dalam berjalannya waktu, kita lihat makin banyak perempuan yang terjun di dunia politik. Kita bicara daerah-daerah yah, kalau di Jakarta banyak tapi kalau di daerah kan susah. Jadi, sudah banyak. Dengan seiring jalannya waktu, sehingga ketika terbuka pencalegan, 30% perempuan. Perempuan jadi lebih mudah. Nah, pertama karena sudah banyak yang terjun di politik, seiring jalannya waktu. Kedua, sistem yang diterapkan sekarang ini free fight competition, mau di nomor urut 7, 9, tetap peluangnya sama dengan nomor urut 1, karena suara terbanyak. Jadi, akhirnya kalau saya lihat, benar-benar tahun 2009 ini, yang namanya tercantum jadi Caleg, itu yang bener-bener serius. Serius mejalani jadi Caleg.

Jadi, pada 2004, ada anggota DPRD Sulawesi Selatan yang hanya untuk memenuhi quota 30%?
Saya kira banyak yah di pasang nama-nama perempuan.

Yang terpilih?
Tidak ada! Karena memang kan, kalau yang dipasang-pasang itu mereka tidak serius menjalaninya. Pertama, karena mereka bukan politikus, kedua mereka udah hopeless duluan, ah gw nomor urut 5, nomor urut 7, karena 2004 itu sistemnya sistem nomor urut, jadi tidak ada yang masuk. Kalau yang sekarang beda. Tidak ada yang bilang, “Eh, gw kebetulan masuk” tidak ada itu. Tidak ada cerita tidak ada perjuangan. Perjuangan itu!

Perempuan di DPR RI, menurut Anda, apakah sudah banyak, yang gigih memperjuangkan hak-hak perempuan?
Ya banyak, yah. Artinya semua perempuan di DPR ini ada perempuan pilihan. Dipilih oleh rakyat, bukan yang kebetulan, “Aduh saya kebetulan jadi anggota dewan”, tidak ada kebetulan di sini, itu benar-benar melalui perjuangan dan pilihan. Dipilih oleh rakyatnya dalam free fight competition. Kedua kalau kita lihat, perempuan yang masuk ini memang juga perempuan yang berkualitas, baik dalam kepemimpinannya, maupun dalam kompetensi ilmunya masing-masing. Kalau yang sejauh saya lihat, terutama dalam patai saya sendiri, memang hebat. Terutama dari kepemimpinannya sendiri, dari sifat itu. Yang kedua, kompetensi dari ilmunya. Kalau yang bilang gigih memperjuangkan perempuan, saya kira itu sudah lahiriah, lahir dari kita. Bagaimana kita memperjuagkan sesama nasib. Walaupun, kita tidak merencanakan, secara otomatis ketika ada perempuan terpojok kita pasti langsung ngomong. Itu saya rasa otomatis, yah, karena rasa sisterhood itu tadi.

Jadi, Anda rasa perempuan yang buta politik atau asal masuk yang lolos sampai DPR RI tidak ada?
Sejauh penagamatan saya, tidak ada itu. Benar-benar berjuang untuk masuk. Tidak ada tuh yang bilang, “Aku tidak pernah kerja tuh, aku tidak pernah turun ke Dapil, aku tidak pernah apa, kok aku bisa masuk”. Tidak ada tuh cerita kayak gitu, menurut saya tidak ada.

Menurut Anda, mereka sudah berkompeten?
Yah, jadi paling enggak yang kompetensi dia, dia tau. Jadi dewan itu kan general banget. Misalnya saya, saya di komisi XI, saya paham ilmu ekonomi, tapi ketika kita bicara tentang statistik, BPK, pengawasan, kan jadi lain. Ketika kita membahas Pansus apa pun, kan jadi lain. Karena kita punya ilmu itu heterogen, kita general kalau di dewan, tapi tidak bisa kalau cuma accounting, accounting terus, tidak bisa.

Harus tahu semua?
Harus mengerti semua. Tau lebih dalam ketika kau bertugas di situ, tapi ketika tidak betugas, it’s okay. Sekarang saya mengerti semua, tapi kalau saya jadi anggota Pansus, tentu saya harus ada pendalaman, saya harus lebih tau lagi.

Apa harapan Anda akan perempuan-perempuan yang ada di DPR?
Kalau harapan saya sih, kalau di DPRD juga saya bilang, walaupun kami minoritas, tapi kami tidak bisu. Kami minoritas, kami hanya kurang lebih seratus orang. Walapun kami minoritas, tapi kami tidak bisu. Seratus orang ini, punya kompetensi yang baik, punya kemauan untuk memperbaiki atau untuk yang terbaik bagi negeri ini. Sehingga, seratus orang ini semuanya bisa memberi kompetensi pemikiran yang berarti bagi bangsa dan negara ini dalam mengambil kebijakan. Jadi, perempuannya tidak pada diem. Coba liat deh, di komisi-komisi kalau rapat, perempuannya tidak pada diam tuh. Pasti juga “Andi Timo, pimpinan! Andi Timo, pimpinan!”.

Anak?
Tiga, putri semua

Masih di Makassar?
Anak saya tidak ada yang di Makassar, anak saya di sini.

Kuliah?
Yang tua di fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan, yang kedua, mau masuk uni, dia sekarang high school di A Level, Kuala Lumpur. Yang ketiga di kelas 5 SD, jadi jaraknya jauh sekali, umur sepuluh tahun, di Jakarta, sama saya.

Kenapa memutuskan untuk menyekolahkan anak yang kedua di Malaysia? Tidak percaya sama pendidikan dalam negeri?
Oh enggak, dia sudah dari SMP. Saya menginginkan, anak saya kan semua perempuan, saya melengkapi perjalanan hidupnya itu, saya ingin mereka mandiri. Mandiri artinya bisa mengurus dirinya sendiri, mengurus keuangannya sediri. Mereka mengurus kapan dia harus main harus belajar. Time manage by dia sendri.
Memang semua anak itu saya kirim untuk bisa mandiri. Yang tua itu SMA tamatnya di Amerika, sudah itu dia lanjut lagi sekolah di Cina. Terus kemudian karena dia tertarik dengan ilmu kedokteran, saya bilang, lebih baik kamu kuliah dalam negeri. Karena dokter dalam negeri lebih dibutuhkan. Jadi, dia pulang ke sini, yang kedua sejak SMP saya kirim ke Malaysia. Yang kecil, sejak dia kecil, kelas 3 sudah saya kirim dia ke Jakarta, saya kan tinggal di Makassar, dia tinggal sama neneknya.


Anda melatih anak-anak Anda supaya seperti Anda?
Mandiri dan, dia tau bahwa hidup itu kita harus struggle. Dia berjuang dia menjadi dirinya sendiri, berjuang karena dirinya sendiri, apa pun karena dirinya sendiri. Seperti saya, ibu saya juga seperti itu ke saya. Bagaimana saya bisa eksis dengan nama saya sendiri, itu juga butuh perjalanan panjang.

Ixora Tri Devi
210110080284

Berkicau Jangan Kacau



Pasti tidak sedikit di antara Anda yang sering kali melakukan aktivitas seperti ilustrasi di atas. Padahal, beberapa tahun yang lalu, ngobrol sambil melakukan aktivitas di kamar mandi (apalagi buang air besar), adalah hal yang sangat tabu, bahkan di beberapa daerah hal ini tidak diperbolehkan. Walaupun bukan "ngobrol" dalam arti sebenarnya, dengan gadget yang saat ini tersedia, kita dapat bertukar pesan dengan siapa saja, di mana saja dengan sangat cepat, tergantung pada kekuatan sinyal. Apa yang menyebabkan hal ini?

Jawaban dari pertanyaan di atas adalah Twitter! Twitter adalah sebuah
microblog yang saat ini sangat digandrungi oleh warga planet bumi. Sama halnya dengan blog yang digunakan sebagai katarsis bagi pemiliknya, Twitter pun berguna sebagai media penyaluran energi. Sifat Twitter yang unik, yakni terbatasnya karakter (hanya 140 karakter) membuat 'berkicau' menjadi lebih sering dilakukan di masa kini, daripada menulis di blog yang terkesan harus selalu dengan kalimat yang panjang.


Menurut Pakar Psikologi Perkembangan, Fredrick Darmawan Purba, kepada Ixora Tri Devi dari Portal Perempuan, kecenderungan untuk menjadi teradiksi oleh Twitter sangat besar, mengingat penyaluran energi yang bisa dilakukan dalam genggaman. Begitu seseorang ingin meluapkan energinya, ia hanya perlu menggunakan gadget yang sudah ada di tangannya, "Tentu saja ini lebih cepat, daripada harus menemukan seorang teman yang bersedia untuk mendengarkan," ujar Fredrick.



Luna Maya sempat terjerat kasus karena 'kicauannya'.

Anda tentu masih ingat dengan kasus Luna Maya, ketika ia memaki pekerja infotainment di Twitternya, yang akhirnya mengundang kontroversi, bahkan perdebatan sengit mengenai status kewartawanan para pekerja infotainment. Ada juga kasus Marsha, pelajar SMA Swasta di kawasan elit Jakarta. Pada 17 Februari, ia menjelek-jelekkan sekolah negeri di Twitternya, spontan ia menjadi trending topic (aplikasi Twitter yang menunjukkan kata apa yang paling banyak di'kicaukan' oleh para pengguna Twitter di seluruh dunia). Makian dan hinaan tidak berhenti dialamatkan pada pelajar berusia 16 tahun ini, yang akhirnya berujung pada dikeluarkannya ia dari sekolah.

Marsha, siswa SMA yang sempat menggegerkan dunia pertwitteran.

Meskipun terdapat kasus-kasus seperti ini, tahukah Anda, bahwa alasan kedua mengapa mencurahkan isi hati di Twitter masih tetap digemari adalah karena pengguna merasakan adanya keamanan untuk curhat di Twitter.
"Walaupun ada kasus yang berkaitan dengan curhat di Twitter, namun kan tidak banyak. Jadi cenderung dinilai lebih aman," kata Fredrick.




Alasan terakhir, dan juga merupakan alasan yang paling kuat mengapa Twitter menjadi sangat digemari, adalah sifatnya yang dapat dikonfirmasi oleh banyak orang. Bayangkan, pendapat Anda disetujui oleh 'follower' Anda di Twitter, baik itu di 'reply' apalagi bila di 'retweet'. Tentu Anda akan semakin banyak 'berkicau', karena menganggap diri Anda dikonfirmasi, bukan hanya oleh satu-dua orang, tetapi sesuai dengan jumlah 'follower' Anda. Dengan metode komunikasi yang tradisional, Anda mungkin akan mendapatkan konfirmasi dengan lawan bicara Anda, satu-dua orang, atau mungkin lebih secara berkelompok. Namun, dengan Twitter, Anda seakan-akan memiliki media massa sendiri.

Penguatan oleh 'massa' Anda di dalam Twitter tentu akan membuat Anda 'berkicau' lagi dan lagi. Mungkin pengguna Twitter yang mendapatkan penguatan tersebut bercita-cita dapat menjadi trending topic layaknya Justin Bieber, oleh karena itu mereka terus menerus 'berkicau'.

Bagaimana pun, yang terpenting adalah jangan sampai kegemaran Anda berkicau berlanjut menjadi penyakit.
Pembicaraan masalah yang terus menerus, khususnya tentang kekecewaan cinta dinilai justru tidak membantu dan malah membuat mereka terobsesi. Itulah hasil studi yang dibesut oleh Dr Joanne Davila dan Liza Star, pakar psikologi dari Stony Brook University, Amerika Serikat. "SMS, instant messaging, dan jejaring sosial membuat kaum muda lebih mudah cemas, yang akhirnya bisa berujung pada depresi," papar Dr Davila (http://www.detikinet.com/read/2009/02/02/081021/1077807/398/curhat-di-facebook-bisa-bikin-depresi). Narasumber kita, Psikolog Fredrick, membenarkan pendapat ini.

Meluapkan perasaan one-on-one dengan mendalam lebih baik untuk menghindari depresi.

Menurut Fredrick, 'curhat' di dunia maya, apalagi di Twitter, hanya akan menimbulkan masalah baru, karena keterbatasan ruang yang tersedia.Hal ini berkaitan dengan pengalaman Fredrick sendiri yang memiliki akun formspring (situs yang berbentuk tanya-jawab) yang dapat juga diakses lewat Twitter. Sekalipun 'curhat' dengan pakar psikologi, namun tetap saja, solusi yang diberikan tidak akan semaksimal apabila setiap aktor komunikasi bertatapan muka secara langsung. "Keterangan yang diterima oleh yang di'curhati' hanya sedikit-sedikit, tentu saja ini akan menimbulkan permasalahan, karena permasalahannya tidak dapat diketahui secara lebih mendalam. Solusi yang diberikan pun kemungkinan tidak tepat pada sasaran. Inilah yang menjadikan depresi,".


Untuk menghindari depresi semacam ini, rasanya lebih baik bila kita kembali mendekatkan yang dekat, tidak menjauhkan yang dekat, seperti yang selama ini terjadi apabila kita sibuk dengan dunia maya. Mari curahkan isi hati kita pada mereka yang kita percaya, just like the old time! ;-)


Ixora Tri Devi
210110080284


sumber foto :

http://ot-indo.blogspot.com/2010/02/kontroversi-twitter-marsha-saphira.html

http://kathbiskie.blogspot.com/2009_04_01_archive.html

http://gudangartis.com/gosip/page/3/

Senin, 03 Mei 2010

Masa Depan Jurnalisme

Bagaimana industri dan aktivitas jurnalisme dimasa depan (kurang lebih 10 tahun mendatang): citizen journalism vs professional journalism

Journalism at its best, Pulitzer Prize-winning journalism that holds the powerful accountable to the public, requires a culture around it to support it. If the public no longer has faith that journalism is meaningful, and stops paying for it, and assumes it will be free on Google and Yahoo, then we truly are in a bad place,”.

Demikian adalah pernyatan dari Ellen Hume, peneliti dari MIT yang memiliki pengalaman lebih dari tiga puluh tahun sebagai reporter dan analis untuk surat kabar, majalah, dan televisi Amerika. Dari statementnya tersebut, dapat kami artikan, Ellen secara implisit menyatakan kekhawatirannya terhadap masa depan jurnalisme. Karya jurnalis yang baik, tentu saja adalah karya jurnalistik yang diakui, yang telah terbukti kredibel dan membawa manfaat bagi masyarakat. Ketika setiap manusia tidak lagi menganggap informasi sebagai sesuatu yang berarti, dan berasumsi bahwa dirinya dapat mengakses informasi yang kredibel dan bermanfaat, secara bebas dan gratis, maka bagaimana dengan nasib jurnalistik professional?

Salah satu pernyataan yang dapat dikaitkan untuk menjawab pertanyaan mengenai nasib jurnalistik professional dapat kami cuplik dari Stewart Brand, pemilik dan editor Whole Earth Catalog serta the Well and the Global Business Network, ia berkata :

"Information Wants To Be Free. Information also wants to be expensive. Information wants to be free because it has become so cheap to distribute, copy, and recombine - too cheap to meter. It wants to be expensive because it can be immeasurably valuable to the recipient. That tension will not go away. It leads to endless wrenching debate about price, copyright, 'intellectual property,' the moral rightness of casual distribution, because each round of new devices makes the tension worse, not better."

Ya, informasi memang benar ingin bebas, namun, informasi yang bebas itu, apakah ada yang menemukan? Tugas jurnalis professional lah untuk menemukan informasi. Tidak semua orang dapat mendapatkan informasi yang berarti, informasi yang “valuable”, memiliki nilai, informasi seperti ini adalah barang dagangan bagi jurnalis professional. Mereka yang menyatakan diri sebagai jurnalis rakyat, bisakah mendapatkan informasi yang memiliki nilai? Apabila mereka bisa, cukupkan kredibilitasnya? Wow, banyak sekali pertanyaan yang dapat muncul seiring dengan wacana mengenai wartawan tanpa media ini.

Contoh kasus yang dapat diamati saat ini, menurut kami, adalah Wimar Witoelar. Seperti “Perspektif Wimar”-lah kira-kira nanti tipe-tipe jurnalis rakyat yang akan muncul. Karena mereka tidak memiliki media, dan berpendapat, serta membuat berita atas nama mereka sendiri (seperti halnya Perspektif Wimar) maka dapat terlihat ketidaknetralan beritanya. Memang benar, media tidak boleh netral, media harus berpihak pada masyarakat dan kebenaran, namun dengan ketidakprofesionalan mereka, apakah mungkin mereka dapat menjadi berpihak pada rakyat, bukan pada diri sendiri?

Banyaknya pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam menanggapi wacana jurnalisme rakyat ini, membuat kami masih skeptis akan “kekalahan” jurnalisme professional pada zaman bebasnya mengkases informasi. Masyarakat masih membutuhkan sebuah lembaga, organisasi, yang dapat bertanggung jawab atas hal-hal yang mereka kabarkan. Jadi, paling tidak sampai sepuluh tahun yang akan datang, menurut kami, jurnalisme professional masih akan bertahan, seperti apapun bentuk fisik informasi dalam karya jurnalistik yang beredar di masyarakat (bahkan apabila hanya sebuah ide yang disebarkan lewat telepati). Tidak hanya sampai sepuluh tahun ke depan, konon, jurnalisme adalah sector yang tetap bertahan bahkan di akhirat, karena setiap orang butuh informasi terperaya dari belahan dunia yang lain.

Sebagai contoh, kami mengutip pernyataan Andy Grove, Chairman dari Board of Intel Corporation sejak May 1997 sampai May 2005, ketika masa depan dari industri yang Anda geluti mengalami kebuntuan, maka ingatlah cerita mengenai orang yang tersesat di atas gunung, lalu bingung dan memilih untuk mengikuti orang yang ia percaya,:

"When you are in a strategic transformation, you kind of get lost. Part of you would want to retreat back to doing what you know how to do, because it's familiar, you know what you're good at, you know where the problems are. But your intellect tells you that's not where you really want to be. So you strike out in a new direction."

Ketika orang-orang kebingungan akan banyaknya informasi yang dapat diakses, maka peracayalah, masyarakat akan menggunakan cara yang familiar bagi dirinya untuk mendapatkan informasi, memercayakan tugas mengimpun informasi kepada para professional, oleh karena itu, profesi di bidang jurnalisme, paling tidak untuk sepuluh tahun yang akan datang, masih tetap bertahan, semoga.

Peran media sosial dalam penyebaran informasi dan aktivitas jurnalisme

Dunia jurnalisme tidak bisa dipisahkan dari peranan media sosial. Mulai dari media massa konvensional seperti surat kabar, majalah, tabloid hingga media massa kontemporer seperti e-paper, dan jejaring sosial (untuk yang satu ini, kami kategorikan sebagai media massa karena sifatnya yang terbuka untuk diakses oleh masyarakat umum).

Jurnalisme membutuhkan media untuk menjadi wadah penyebarluasan informasi yang terdapat dalam berita. Dan dalam perkembangannya kini, media massa hadir dengan ragamnya yang semakin bervariasi. Kehadiran internet semakin menguatkan pendapat bahwa media (dalam hal ini media on-line) dapat memberikan manfaat yang besar dalam kehidupan manusia, termasuk dunia jurnalisme.

Jejaring sosial yang hingga kini masih diperdebatkan apakah merupakan media massa atau bukan adalah salah satu jenis media on-line yang memberikan kontribusi besar dalam bidang jurnalisme. Berkat adanya jejaring sosial ini, masyarakat tidak hanya dapat berjumpa kembali dengan kawan lama atau bersilaturahmi dengan saudara jauh tetapi juga bisa menjadi jurnalis. Tak dapat dipungkiri, kehadiran jejaring sosial turut berperan dalam menggeliatkan aktivitas jurnalisme warga, atau kata lainnya adalah citizen journalism/ participatory journalism.

Pemanfaatan jejaring sosial oleh masyarakat untuk meng-update status dengan keseharian mereka, peristiwa yang terjadi di sekeliling mereka, hingga tempat-tempat wisata favorit serta rujukan film atau buku baru, adalah salah satu dari bentuk jurnalisme warga. Di sini, masyarakat menjalankan peranannya sebagai jurnalis dengan melaksanakan fungsi sebagai penyampai informasi. Ciri khas yang bisa dibilang sebagai kelemahan sekaligus kelebihan jurnalisme warga yang dilakukan melalui jejaring sosial adalah cara pengungkapan informasi dengan bahasa sehari-hari yang informal.

Bahasa informal tersebut menjadi kelebihan karena orang lain yang membaca informasi tersebut akan merasa karib dengan penulisnya berkat bahasa yang informal, dan hal tersebut dapat menghindari kejenuhan pembaca akan kata-kata baku yang biasa ditemui dalam berita di dunia jurnalisme professional. Namun, bahasa informal tersebut menjadi kekurangan jurnalisme warga sebab sifat bahasa informal yang tidak ketat tata bahasa membuat kalimat-kalimatnya kadang menjadi ambigu sebab tidak semua orang menguasai teknik penulisan yang baik. Lalu orang tidak akan mendapatkan jaminan mengenai akurasi, kredibilitas narasumber hingga kebenaran informasi tersebut sebab jurnalisme warga tidak terikat dengan etika profesi.

Bagi jurnalis profesional, kehadiran jejaring sosial turut membantu mereka melaksanakan tugasnya. Jejaring sosial seperti twitter, misalnya, dapat menjadi rujukan bagi mereka dalam mencari berita. Hal-hal yang menjadi trending topic (topik yang paling sering dibicarakan) dapat menjadi acuan bagi mereka dalam menentukan isu yang akan diangkat sebagai bahan berita. Status twitter para tokoh yang mempunyai nilai berita (orang penting, orang terkenal atau orang berkuasa) dapat dijadikan bahan-bahan untuk memperkaya sisi personal sang tokoh dalam berita khas (feature), misalnya. Atau dapat juga dijadikan rujukan untuk mengetahui keberadaan sang tokoh yang mempunyai nilai berita tersebut untuk dimintai keterangan atau wawancara secara mendadak jika sang narasumber sangat sulit dihubungi melalui telepon.

Status twitter yang sangat cepat berganti dimanfaatkan dengan sangat baik oleh media massa berbasis on-line seperti detik.com. Mereka menginformasikan hal-hal penting secara terus menerus melalui jejaring sosial ini tanpa perlu bersusah-susah mengemasnya secara detail karena sifat twitter yang terbatasi 140 karakter ini. Karena sifatnya yang cepat, mudah dan simpel ini maka tak heran tiba-tiba begitu banyak orang menjadi jurnalis mendadak ketika kejadian heboh orang yang terjun dari lantai dua sebuah pusat perbelanjaan terjadi.

Ambiguitas sifat jejaring sosial yang masih diperdebatkan antara media massa atau media pribadi ini juga dimanfaatkan dengan sangat baik oleh jurnalis profesional yang tidak bebas menyatakan pendapatnya dalam berita, atau ketika ada benturan-benturan ideologi atau kekuasaan yang membuat beritanya batal dimuat. Jika keadaan sudah mencapai seperti itu, maka jejaring sosial adalah sarana yang tepat bagi para jurnalis tersebut untuk mengungkapkan apa yang tidak bisa mereka ungkapkan di media massa. Beberapa jurnalis memilih membebaskan ekspresi mereka dalam mengungkapkan kebenaran yang tidak bisa mereka sampaikan dalam dunia jurnalisme melalui sastra tetapi keterbatasan penguasaan teknik penulisan sastra yang – tentu saja – berbeda dengan jurnalisme membuat jejaring sosial menjadi sarana yang tepat. Ketika ada pihak-pihak yang tersinggung dengan tulisan mereka dalam jejaring sosial, maka alasan bahwa jejaring sosial juga merupakan media pribadi adalah alasan yang tepat untuk melindungi mereka.

Seperti itulah manfaat yang diberikan oleh jejaring sosial dalam hal penyebaran informasi dan aktivitas jurnalisme. Beberapa tahun kemudian, jika ditemukan jejaring sosial yang semakin canggih, dapat dibayangkan bahwa jurnalisme warga akan semakin menggeliat.

dibuat oleh:

Deandra Syarizka (210110080225)

Ixora Tri Devi (210110080284)